Tips melamar pekerjaan di perusahaan Agile

https://sarastya.org | Tips jitu melamar pekerjaan di perusahaan Agile

Kali ini mimin akan berbagi tips agar kalian yang sekarang lagi melamar pekerjaan bisa segera menemukan perusahaan yang cocok dengan keinginan kalian, khususnya perusahaan yang menerapkan Agile.

Apa sih yang dimaksud dengan perusahaan Agile di sini?

Singkat cerita, perusahaan atau organisasi yang mengadopsi atau menerapkan Nilai dan Prinsip Agile seperti yang dijelaskan di agilemanifesto.org.

Walaupun tips ini dikhususkan buat kalian yang memang ingin berkarir di perusahaan Agile, namun secara umum, tips yang akan mimin sampaikan ini juga bisa digunakan lho di perusahaan yang belum menerapkan Agile.

Tips belajar artikel ini

Untuk memudahkan mempelajari tips yang diberikan di artikel ini hingga paham, maka kalian sebaiknya membaca berulang-ulang setiap tips di waktu yang berbeda. Sepertinya akan cukup sulit untuk memahami keseluruhan tips hanya dalam sekali baca.

Yuk, tanpa berlama-lama, kita pelajari tips melamar pekerjaan di perusahaan Agile.

Tips 1: Pahami dengan lebih baik apa itu Agile.

Tips ini wajib dijalankan kalau kalian ingin mengajukan aplikasi lamaran pekerjaan di perusahaan yang menerapkan Nilai dan Prinsip Agile. Cukup banyak referensi yang bisa kalian pelajari untuk memahami apa itu Agile. Pemahaman Agile sejak awal ini akan sangat membantu kalian untuk mempersiapkan segala sesuatunya selama mengikuti proses rekrutmen dan seleksi kandidat karyawan. Jangan sampai kalian mengalami kebingungan ketika nanti memasuki sesi interview atau interaksi lainnya dengan para perekrut (recruiter).

Secara umum, istilah Agile kalau diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti cepat, lincah, cekatan, ataupun tangkas. Agile ini sebenarnya sudah cukup lama dideklarasikan atau dirumuskan, tepatnya sekitar tanggal 11-13 Februari 2001 oleh tujuh belas orang praktisi perangkat lunak di sebuah pegunungan di Utah, Amerika Serikat.

Baca juga: Apa itu Agile?

Agile semakin banyak dipelajari ketika pandemi Covid-19 melanda di seluruh dunia pada periode akhir tahun 2019. Covid-19 telah mengubah banyak hal dan di banyak sektor. Perubahan yang ditimbulkan oleh Covid-19 bersifat masif dan destruktif, serta tentunya juga sangat dramatis.

Perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga inilah yang akhirnya mendorong banyak orang untuk melirik Agile sebagai sebuah solusi bagaimana semestinya kita menyikapi perubahan yang terjadi secara radikal tersebut. Kalian tentunya masih ingat yah ketika Covid-19 melanda di Indonesia, hampir setiap pekan pemerintah kita menyampaikan kebijakan-kebijakan baru untuk merespon kondisi terkini. Apa yang dilakukan pemerintah saat itu bisa dianalogikan dengan Agility atau kemampuan untuk merepson perubahan secara cepat.

Agile tidak menganut konsep untuk merencanakan sesuatu secara terperinci atau detail, namun melatih kita untuk tanggap dan fleksibel dalam menanggapi sebuah perubahan.

Tips 2: Kenali karakteristik perusahaan Agile

Tips kedua yang bisa diterapkan adalah dengan mempelajari bagaimana sih karakteristik perusahaan Agile, baik yang tersurat maupun tersirat.

Setiap perusahaan pasti mempunyai tata nilai dan budaya organisasi yang wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di perusahaan. Tata nilai dan budaya organisasi merupakan sesuatu yang tersurat, artinya ada sebuah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh perusaahaan, sehingga bisa dipelajari oleh setiap orang yang bekerja atau bergabung dengan perusahaan. Pelajari dengan seksama tata nilai dan budaya organisasi perusahaan yang ingin kalian lamar. Tata nilai dan budaya organisasi perusahaan Agile biasanya sejalan dengan semangat untuk memanusiakan manusia.

Setelah itu, kalian mesti memahami sesuatu yang tersirat terkait karakteristik perusahaan Agile ini. Ada sesuatu yang unik dengan karakteristik perusahaan yang biasanya akan ditemukan di hampir mayoritas perusahaan yang menerapkan Agile. Coba perhatikan beberapa item di bawah ini yang mencerminkan karakteristik perusahaan Agile:

  • Suasana lingkungan kerja tidak terlalu formal, tidak banyak peraturan yang dapat membatasi individu dalam berkreativitas dan berinovasi.
  • Hubungan antar individu tidak kaku, baik antara pemimpin maupun yang dipimpin, mereka bekerja sebagai sebuah tim, bukan bekerja untuk mengamankan kepentingannya sendiri.
  • Perusahaan mendorong agar setiap individu saling mendukung satu sama lain, menjalin kolaborasi aktif, dan tidak egois.
  • Seorang pemimpin di perusahaan Agile menerapkan prinsip kepemimpinan yang melayani Tim atau biasa disebut dengan servant leadership, bukan seorang bos yang minta dilayani oleh bawahan.
  • Perusahaan Agile mengesampingkan jabatan struktural sebagai sesuatu yang penting, bahkan di beberapa perusahaan sudah tidak lagi mempunyai supervisor maupun manager untuk mengelola Tim.
  • Orang-orang yang bekerja di perusahaan Agile pada umumnya mempunyai softskill atau kemampuan menjalin interaksi antar manusia yang cukup baik, termasuk dalam hal leadership, communication, problem solving, decision making, time management, team management, learning skill, creativity, strategic management, dan seterusnya.
  • Transparansi dan kejujuran menjadi pondasi atau landasan utama bagi organisasi untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik, bahkan kalau ada sebuah permasalah atau kendala mesti didorong untuk diekspos atau diungkapkan sedini mungkin.
  • Kesalahan atau kegagalan bagi organisasi Agile dinilai sebagai sebuah pembelajaran sekaligus umpan balik (feedback), bukan sesuatu yang mesti mendapatkan hukuman. Jadi kalian jangan takut yah kalau melakukan kesalahan ataupun kegagalan (failure), yang penting kalian mesti transparan dan sampaikanlah kepada Tim. Mereka akan membantu kalian untuk memperbaiki kesalahan dan mendukung kalian menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
  • Umumnya, perusahaan Agile tidak menerapkan kebijakan Penilaian Kinerja Individu dengan menggunakan KPIs, namun lebih memilih untuk membuat penilaian kinerja level Tim dengan menerapkan OKRs (Objective and Key Results).

Tips 3: Pelajari lebih seksama Agile Mindset

Tips ketiga dan ini termasuk hal yang penting, yaitu pelajari apa itu Agile Mindset. Saat ini cukup banyak sumber pembelajaran yang bertebaran di internet baik berbahasa Indonesia maupun Inggris terkait topik Agile mindset. Cukup ketik kata kunci “Agile mindset“, di mesin pencarian dan tunggu beberapa saat, ratusan hingga ribuan artikel bisa kalian dapatkan.

Secara umum, Agile mindset terkait dengan pola pikir yang mengedepankan pertumbuhan, interaksi manusia, fleksibilitas, ketangkasan, kolaborasi, komitmen, respon terhadap perubahan, inovasi dan kreativitas, orientasi terhadap value, kebahagian pelanggan, keterbukaan, transparansi, kedinamisan, kelincahan, respek, pembelajaran berkesinambungan, maupun norma dan perilaku.

Pemahaman Agile dari sisi mindset secara holistik ini dapat membantu kalian ketika nanti akan menghadapi sesi interview maupun setelahnya. Memahami Agile mindset benar-benar sangat penting agar kalian tahu perbedaannya antara perusahaan Agile dan non-Agile secara fundamental dan substantif.

Memahami Agile mindset dapat mempercepat adaptasi kalian dengan lingkungan kerja baru. Mungkin awalnya nanti akan terasa aneh ketika berinteraksi dengan orang-orang baru di perusahaan baru. Mungkin ada hal-hal yang tidak pernah kalian temui ketika bekerja di perusahaan lama, khususnya terkait dengan keramahan, respek, empati, dan kolaborasi antar individu di Tim.

Dengan pemahaman Agile mindset, maka kalian seolah-olah merasa sudah cukup lama bergabung dengan perusahaan walaupun faktanya mungkin kalian baru berinteraksi dengan teman-teman di Tim dalam hitungan hari.

Untuk benar-benar bisa memahami Agile mindset ini, maka sebaiknya kalian mulai mencoba mempraktikannya apa yang bisa diimplementasikan ketika masih berkarir di perusahaan lama. Mempelajari hingga ke tahap memahami Agile mindset ini memanglah tidak mudah. Pendekatan Agile mindset mungkin nyaris bertolak belakang dengan non-Agile, sehingga bisa jadi kalian akan mengalami kebingungan dengan Agile mindset ini.

Misal nih, kalau di perusahaan lama yang non-Agile, setiap orang akan berusaha untuk mengurusi dirinya sendiri, mengejar KPIs-nya sendiri, mengamankan kepentingan dirinya sendiri, tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar, menunggu instruksi dari atasan, mengikuti briefing pagi hanya untuk mendengarkan arahan atasan secara satu arah, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Nah, apa yang akan ditemui di perusahaan Agile akan tidak sama lagi dengan perusahaan sebelumnya. Awalnya akan terasa aneh dan unik.

Tips 4: Pahami kebijakan, pendekatan, dan proses rekrutmen Agile

Bisa jadi setiap perusahaan Agile akan menerapkan kebijakan yang tidak sama terkait dengan rekrutmen Talenta. Walaupun demikian, secara umum perusahaan Agile mempunyai kesamaan dalam hal fundamental rekrutmen talenta. Memahami pendekatan dan proses rekrutmen Agile akan menjadi sebuah keuntungan ketika nantinya kalian menjalani setiap fase yang ditetapkan dalam proses rekrutmen.

Dengan berbekal pemahaman terkait topik Agile seperti yang disampaikan pada Tips 1, 2, dan 3, maka kalian seharusnya akan lebih mudah untuk memahami pendekatan, kebijakan, aturan, maupun proses yang ditetapkan oleh perusahaan Agile saat menyelenggarakan rekrutmen Talenta. Beberapa perusahaan mungkin akan menggunakan istilah lain untuk menggantikan istilah rekrutmen Talenta, misal ADOPSI TALENTA. Sekali lagi, tidak ada ketentuan baku untuk menyelenggarakan rekrutmen Talenta dengan menggunakan prinsip Agile ini.

Tips 5: Membentuk sikap dan etika selama proses rekrutmen.

Seperti yang disampaikan di Tips 4, jadilah diri sendiri apa adanya, tak perlu bersusah payah untuk menjadi atau menirukan seperti orang lain. Hal ini untuk memudahkan kalian nantinya beradaptasi dengan Tim baru. Pada umumnya mereka yang sudah terbiasa bekerja di lingkungan perusahaan Agile akan menyukai hal-hal yang bersifat natural, tidak dibuat-buat. Kebiasaan ini terbentuk karena dorongan dari semangat Agile yaitu terkait dengan transparansi.

Jika ada sesuatu yang membuat kalian ragu-ragu atau tidak mengerti, sampaikan secara langsung kepada pihak perekrut atau Tim yang menangani proses rekrutmen. Keberanian untuk menanyakan sesuatu hal merupakan cerminan dari nilai dan prinsip Agile, tentunya juga memperhatikan faktor etika dan norma yang berlaku. Perekrut mempunyai kecenderungan untuk lebih memperhatikan kandidat yang mempunyai keberanian daripada kandidat yang cenderung pasif.

Selama menjalani proses rekrutmen Agile ini, kalian mesti bersungguh-sungguh untuk mengubah atau menyesuaikan karakter atau kepribadian kalian yang dulunya kurang atau tidak mencerminkan nilai dan prinsip Agile. Menjadi seseorang dengan kepribadian Agile tidak hanya berlaku saat menjalani proses rekrutmen, namun ketika sudah diterima pun juga mesti terus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu.

Meskipun perekrut memberikan kesempatan kepada kandidat untuk mengajukan pertanyaan maupun saran selama proses rekrutmen, namun kalian janganlah terlalu berlebihan mempergunakan kesempatan itu. Agile mengajarkan untuk menghormati atau memberikan respek kepada orang lain, walaupun mungkin secara posisi kalian berada di level lebih atas. Respek akan melahirkan interaksi positif antar individu di sebuah entitas, termasuk di dalam Tim, serta kepercayaan tulus.

Usahakan kalian untuk membangun kolaborasi yang sesungguhnya dengan kandidat lain jika ada tugas-tugas yang memang nanti akan dikerjakan secara berkelompok. Kalian tidak perlu khawatir kalau nantinya perekrut akan memilih kandidat yang mungkin kita bantu selama menyelesaikan tugas. Jika kalian memang tulus ikhlas dalam menjalin kolaborasi dengan kandidat lain yang notabene adalah kompetitor selama fase mengerjakan tugas, maka biasanya ada saja keajaiban-keajaiban yang bakal kalian dapatkan. Walaupun pada akhirnya kalian tidak terpilih, maka jangan khawatir, di perusahaan lain kiprah kalian akan ditunggu. Setidaknya kalian telah mempunyai sebuah pengalaman berharga dalam menjalani rekrutmen model baru.

Selalu perhatikan LOCAL WISDOM di mana perusahaan berada. Biasanya local wisdom mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kelancaran jalannya proses rekrutmen. Local wisdom di sini bisa beraneka ragam, bisa jadi terkait dengan demografi, budaya, kelompok usia, belief system, histori, maupun perjalanan perusahaan. Menempatkan diri kalian dalam perspektif local wisdom perusahaan akan memudahkan jalannya proses rekrutmen. Walaupun mungkin perusahaan yang kalian idamkan berada di daerah pelosok, namun jangan pernah menyepelekan mereka. Tetap rendah hati dan respek.

Tips 6: Ajukan pertanyaan mendasar dan substantif terkait adopsi Agile di perusahaan secara holistik atau menyeluruh.

Perekrut akan sangat menghargai setiap pertanyaan yang diajukan oleh kandidat, khususnya hal-hal yang terkait dengan penerapan Agile di perusahaan. Bagi perekrut, pertanyaan tersebut memberikan isyarat bahwa kandidat mempunyai ketertarikan dan perhatian terkait Agile. Jadi kalian jangan menyia-nyiakan kesempatan emas ini ketika diberikan waktu untuk mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan yang bisa diajukan kepada perekrut atau Tim perekrut adalah sesuatu hal yang menurut kalian belum benar-benar dipahami dengan baik. Hindari pertanyaan yang sifatnya formalitas, agar tidak memberikan kesan bahwa kalian sedang menguji atau memberikan tantangan kepada perekrut. Hal ini sesuatu yang tidak baik dan tidak mencerminkan rasa respek kepada perekrut.

Berikut ini beberapa jenis pertanyaan yang dikelompokkan berdasarkan kategori yang biasa ditemui di perusahaan Agile. Kalian mesti melakukan modifikasi atau penyesuaian sesuai dengan kondisi saat proses rekrutmen dilaksanakan. Gunakanlah diksi yang tepat dan baik, jangan asal-asalan menyampaikan pertanyaan kepada perekrut.

Baca juga: Apa itu Agile?

Histori dan latar belakang perusahaan menerapkan Agile

Sepertinya ini mungkin termasuk hal sepele buat kalian, namun bagi perekrut, apalagi dia pernah ikut mengawal adopsi Agile di perusahaan di masa lalu, maka hal ini akan menjadi sesuatu yang istimewa. Cukup jarang ada kandidat yang menanyakan sesuatu hal yang terkait dengan histori perusahaan apalagi hal-hal spesifik yang berhubungan dengan sejarah adopsi Agile. Pertanyaan kalian yang sesepele ini akan dapat mengubah arah permainan dalam proses rekrutmen. Kalian akan “diikuti”.

Hal ini menandakan kalau kalian sangat peduli kepada perusahaan walaupun kalian masih menjalani proses rekrutmen. Apalagi jika kalian ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana proses saat adopsi Agile kali pertama berlangsung. Dinamika dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan saat itu seperti apa, hingga kepada pertanyaan-pertanyaan yang bersifat lebih detail dan mendalam seperti menanyakan latar belakang, motivasi, dan tujuan mengapa memilih Agile sebagai acuan untuk membangun perusahaan yang lincah, tangkas, dan gesit. Jangan lupa juga mengajukan pertanyaan dampak positif apa yang telah didapatkan dari adopsi Agile tersebut walaupun kelihatannya kecil di semester atau tahun pertama.

Keingintahuan kalian ini pasti akan sangat dihargai oleh perekrut sebagai sesuatu yang positif. Selain kepedulian kalian terhadap upaya adopsi Agile yang telah dilakukan oleh perusahaan, pertanyaan terkait histori dan latar belakang ini menandakan kalau kalian memiliki kecerdasan emosional dan intelektual serta tentunya hal ini akan disukai oleh perekrut dan Timnya.

Perekrut juga akan mempunyai sebuah keyakinan kalau kalian ini bukanlah tipikal kandidat yang menyukai sesuatu yang bersifat instan dan segera. Pertanyaan kalian tersebut juga akan memberikan kesan kalau kalian ini merupakan tipikal orang yang memperhatikan proses, bukan hasil semata. Kalian akan dianggap mempunyai kemampuan dalam mengimplementasikan Critical Thinking dalam dunia nyata untuk memahami dan menganalisis sebuah kondisi secara obyektif, mengevaluasi bukti empiris yang tersedia, membedakan fakta dan opini, meninjau metode yang digunakan, mempertimbangkan risiko dan peluang, menganalisis perbedaan interpretasi, sudut pandang, maupun perspektif, serta merumuskan sebuah kesimpulan berdasarkan pertimbangan kalian sendiri.

Critical Thinking sangat diperlukan untuk melakukan sebuah evaluasi atas sesuatu hal secara lebih mendalam dan bersifat netral. Tim Agile memerlukan anggota-anggota yang memiliki pola pemikiran kritis untuk melakukan inspeksi atas sebuah evidence atau bukti yang telah tersedia. Critical Thinking ini akan mendukung Creative Thinking untuk menghasilkan sesuatu hal yang lebih bermanfaat lagi. Agility memerlukan orang-orang yang yang mempunyai pemikiran kritis dan kreatif.

Identitas Organisasi

Identitas organisasi menjadi roh dari setiap perusahaan dan kalian mesti mengerti dan memahami hal ini dengan baik sejak awal. Beberapa perusahaan secara sadar telah menyusun identitas organisasi yang akan dijadikan pijakan untuk mengelola bisnis agar lebih terarah sesuai dengan Goal yang ingin diwujudkan. Setidaknya identitas organisasi ini akan mencerminkan bagaimana orang-orang yang bergabung dan bekerja di sana berperilaku di kehidupan lingkungan kerja sehari-hari.

Perusahaan yang tidak mempunyai identitas organisasi yang jelas ibaratnya seperti mayat hidup, ada sesuatu yang bergerak dan berjalan, namun tidak mempunyai jiwa. Kalian wajib mengetahui hal ini agar kalian tidak terjebak di perusahaan yang menjadikan orang-orang di dalamnya seperti mesin atau robot.

Perusahaan Agile sangat memahami pentingnya identitas organisasi sebagai nyawa dan roh jalannya perusahaan. Kalian sangat diperbolehkan untuk menanyakan hal-hal terkait identitas organisasi, mulai dari:

  • Visi
  • Misi
  • Prinsip-prinsip
  • Tata Nilai
  • Budaya

Setidaknya kelima hal di atas perlu kalian ketahui, termasuk juga makna maupun tafsiran masing-masing elemen penyusun identitas organisasi. Identitas organisasi di perusahaan Agile menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan sekali lagi, tidak bermaksud menjadikan orang-orang yang tergabung di perusahaan sebagai sebuah robot, cyborg, ataupun mesin.

Jika diperlukan, maka kalian bisa menanyakan hingga ke aspek implementasi dari identitas organisasi itu seperti apa, khususnya terkait dengan Corporate Values dan Corporate Culture. Apakah Tata Nilai dan Budaya perusahaan mencerminkan nilai dan prinsip Agile, kalian nanti akan bisa merasakannya sendiri ketika berinteraksi secara langsung saat menjalani proses-proses rekrutmen.

Struktur Organisasi

Mengapa struktur organisasi ini perlu kalian ketahui secara lebih detail?

Ada beberapa pertimbangan yang melandasi pengetahuan kalian terhadap struktur organisasi ini, di antaranya adalah ingin memastikan apakah perusahaan yang kalian inginkan ini memang benar-benar mengadopsi Agile secara benar atau hanya sekedar jargon semata. Perusahaan Agile mempunyai struktur organisasi yang relatif sederhana, hirarki vertikalnya pun juga pendek, tidak bertingkat-tingkat. Bahkan di beberapa perusahaan malah telah menerapkan model struktur Flat Organization.

Perusahaan Agile lebih mengedepankan interaksi manusia secara natural yang didasarkan atas sebuah kesadaran, bukan intimidasi, kekerasan, provokasi, serta menghilangkan sekat-sekat baik oleh sekat struktural maupun jabatan. Interaksi model ini bisa diwujudkan dengan menghilangkan bentuk-bentuk praktik birokrasi, monokrasi, maupun otokrasi di perusahaan. Jenjang struktur organisasi yang terlalu bertingkat dan berlapis-lapis ini sangat tidak mendukung lingkungan kerja yang lincah, cepat, dan tangkas di zaman seperti sekarang ini.

Selain itu dengan pemahaman kalian terhadap struktur organisasi di perusahaan, maka kalian akan bisa memahami bagaimana interaksi secara horizontal antar Tim. Interaksi horizontal ini jug diperlukan untuk memudahkan pekerjaan yang membutuhkan cross-functional di dalam rangka menghasilkan value.

Implementasi Agile Mindset

Pertanyaan berikutnya yang bisa kalian ajukan kepada perekrut atau Tim perekrut adalah terkait dengan implementasi atau adopsi dari Agile mindset di perusahaan khususnya pada waktu sekarang ini. Jawaban atau tanggapan dari perekrut akan memberikan gambaran bagaimana adopsi Agile telah berkembang mulai sejak awal hingga sekarang. Kalian mesti memperhatikan dan membuat catatan-catatan penting, khususnya jika perekrut menyampaikan informasi yang cukup sensitif dan spesifik. Respek kalian terhadap penjelasan perekrut akan mendapatkan nilai positif, karena biasanya perekrut akan bersemangat untuk menjelaskan bagaimana kondisi implementasi Agile mindset hingga sekarang ini.

Apabila dari penjelasan perekrut ada sesuatu yang penting dan belum kalian pahami, maka sampaikan kepada yang bersangkutan untuk mengulangi atau menggunakan ilustrasi atau juga mengubah diksi yang lebih sederhana. Mungkin hal ini terkesan agak berlebihan ketika kalian malah meminta penjelasan ulang kepada perekrut. Oleh sebab itu, gunakan kesempatan untuk meminta penjelasan ulang hanya pada kondisi-kondisi yang cukup penting. Jangan setiap kali meminta penjelasan ulang, karena hal ini menandakan kalau kalian tidak fokus dan tidak respek kepada orang lain.

Implementasi Agile di kehidupan sehari-hari di lingkungan kerja akan dengan sangat mudah kalian temui, apalagi jika proses rekrutmen juga melibatkan Tim, bukan hanya satu orang saja. Nuansa interaksi individu dan Tim akan sangat terasa, apakah sebuah hubungan formal atau informal. Ketika kalian berkunjung ke perusahaan pada saat mengikuti sesi interview secara langsung atau tatap muka, tentu saja kalian akan menemui orang-orang yang bekerja di perusahaan, entah itu tim security, resepsionis, office boy, staf lain, atau pihak dari perekrut itu sendiri.

Tidak selalu implementasi Agile ini berada di posisi yang baik-baik saja, apalagi jika perusahaan masih relatif baru dalam mengadopsi Agile ini. Kalian bisa mencoba untuk menggali lebih dalam, apa saja kendala atau tantangan terkini yang sedang dihadapi oleh perusahaan. Pertanyaan ini kalian ajukan agar kalian bisa langsung beradaptasi di fase atau state terakhir dan tentunya diharapkan dengan kehadiran kalian akan bisa membantu perusahaan untuk menyelesaikan kendala maupun tantangan tersebut, walaupun perusahaan maupun Tim mungkin belum berharap banyak kepada kalian.

Komitmen dan konsistensi anggota Tim maupun karyawan lain untuk menjalankan Agile mindset ini sangat diperlukan setiap saat. Menjaga komitmen dan konsistensi ini merupakan tantangan. Kalian boleh juga menanyakan inovasi dan kreativitas apa saja yang telah dilakukan oleh perusahaan agar karyawan atau anggota Tim tidak mengalami kebosanan ketika menjalankan Agile ini. Penjelasan perekrut akan memberikan pandangan kepada kalian, seberapa peduli dan lincah Tim yang ada ketika merespon kondisi status quo.

Metode praktik atau Kerangka Kerja Agile yang digunakan

Nah, pertanyaan ini juga mesti disampaikan kepada perekrut kalau yang bersangkutan memang belum pernah menjelaskan terkait dengan metode atau kerangka kerja Agile apa yang digunakan oleh perusahaan. Setiap perusahaan akan menggunakan model praktik Agile sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka masing-masing. Tidak ada sebuah aturan yang mengharuskan sebuah perusahaan Agile itu wajib menggunakan metode atau kerangka kerja tertentu.

https://sarastya.org | Payung Agile

Ada cukup banyak metode maupun kerangka kerja (framework) yang bisa digunakan untuk mewujudkan perusahaan Agile. Kalian bisa memperhatikan beberapa model praktik di bawah payung Agile seperti pada gambar di bawah ini.

Sebuah perusahan biasanya mempunyai kecenderungan hanya menerapkan satu model kerja saja, walaupun mungkin ada juga yang menggunakan lebih dari satu model. Kalian mesti menanyakan kepada perekrut, saat ini model kerja Agile yang bagaimana yang sedang digunakan oleh perusahaan. Secara umum, model kerja Agile ini memang kebanyakan digunakan untuk keperluan dunia Teknologi Informasi, namun ada juga beberapa model kerja yang bisa digunakan secara universal.

Oh ya, kalian juga mesti tahu kalau hingga saat ini model kerja yang paling banyak digunakan oleh perusahaan Agile di seluruh dunia adalah Scrum, setelah itu disusul oleh Kanban dan seterusnya. Dengan memahami dua model kerja ini, kalian akan lebih mudah dan cepat untuk memutuskan apakah perusahaan yang sedang kalian tuju ini sesuai atau tidak dengan harapan kalian.

Pastikan juga kalian telah benar-benar memahami model kerja apa yang dipakai oleh perusahaan secara detail, termasuk jika perusahaan menggunakan Scrum, maka kalian juga mesti tahu Scrum versi berapa yang digunakan. Ada beberapa pertimbangan mengapa kalian mesti mengetahui hingga detail informasi model kerja yang dipakai, di antaranya karena bisa jadi setiap model kerja itu mempunyai beberapa versi dan ketentuan khusus yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Sebagai contoh, hingga pada saat artikel ini dibuat, maka idealnya perusahaan telah menggunakan Scrum versi 2020.

Baca juga: Kelas pelatihan Business Agility dan Scrum (BAS)

Pertumbuhan Diri

Selanjutnya adalah pertanyaan terkait dengan pertumbuhan atau pengembangan diri untuk karyawan atau Tim. Kalian tentunya ingin bertumbuh juga kan bersama perusahaan?

Nah, untuk itu kalian mesti cukup memahami bagaimana perusahaan mendorong agar setiap individu bisa bertumbuh dan berkembang. Ajukan pertanyaan kepada perekrut tentang program-program apa saja yang saat ini diselenggarakan dan akan dieksekusi di masa mendatang.

Perusahaan Agile tentunya sangat memperhatikan pertumbuhan setiap individu agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Pertumbuhan yang dimaksud meliputi peningkatan level KESADARAN, KECERDASAN, dan KESEJAHTERAAN masing-masing anggota Tim. Kalian boleh mengeksplor lebih lanjut terkait pertumbuhan diri di ketiga area tersebut dengan pertanyaan yang lebih spesifik.

Perusahaan Agile akan memberikan berbagai pelayanan yang bisa dimanfaatkan oleh anggota Tim dalam berbagai bentuk dan format, mulai dari Coaching, Mentoring, Training, Consulting, hingga Counseling yang tentunya akan diberikan secara gratis kepada kalian. Kalau kalian belum mendapatkan informasi terkait layanan-layanan yang diberikan oleh perusahaan di sepanjang sesi rekrutmen, maka sebaiknya kalian menanyakan terkait hal ini.

Bisa jadi tidak setiap perusahaan sudah siap untuk memberikan semua layanan seperti yang disampaikan di atas, namun biasanya perusahaan Agile, apalagi yang baru mulai mengadopsi Agile, akan menyiapkan layanan dasar seperti coaching dan mentoring.

GOAL Perusahaan

Biasanya pihak perusahaan atau perekrut telah menyampaikan informasi tentang Visi dan Misi perusahaan di awal-awal proses rekrutmen, namun belum tentu dengan informasi terkait Goal perusahaan. Umumnya Goal perusahaan lebih banyak dikomunikasikan untuk kalangan internal perusahaan, bukan untuk pihak luar.

Namun demikian, kalian boleh mencoba untuk mencari tahu apa sih Goal perusahaan di tahun ini atau mendatang? Siapa tahu pihak perekrut cukup bersahabat dan bersedia menyampaikan Goal perusahaan, walaupun mungkin informasinya bersifat umum dan tidak spesifik maupun detail. Setidaknya dengan penjelasan informasi terkait Goal perusahaan tersebut meskipun disampaikan dengan cukup umum, kalian akan dapat menilai bagaimana wajah perusahaan ini nanti ke depannya.

Perusahaan Agile bergerak dan beroperasi berdasarkan Goal, dan tidak terjebak kepada sesuatu yang bersifat rutinitas, misalnya terpaku kepada Job Desc maupun Daily Activity yang monoton. Karakteristik bagaimana perusahaan Agile ini dijalankan sangat dipengaruhi oleh Goal yang telah ditetapkan, baik di level perusahaan, unit bisnis, fungsi bisnis, maupun tim. Oleh sebab itu pengetahuan Goal ini sangatlah penting untuk dipahami oleh para kandidat yang melamar di perusahaan Agile. Sekali lagi jangan hanya berhenti di level Visi maupun Misi perusahaan.

Oh ya, rekrutmen Talenta untuk mengisi lowongan di bagian-bagian strategis, seperti Tim Manajemen, biasanya pihak manajemen puncak atau direksi akan terjun langsung mengawal proses rekrutmen. Jika kalian mengetahui kalau manajemen puncak juga terlibat dalam proses rekrutmen, maka gunakan kesempatan ini untuk memahami Goal perusahaan lebih detail melalui diskusi bersahabat.

Bukan hanya ingin mengetahui pernyataan Goal atau Goal statement saja, namun juga perlu kalian gali lebih lanjut terkait kebijakan maupun proses bagaimana Goal ditetapkan. Hal ini akan sangat menarik buat kalian. Perusahaan Agile yang baik akan berusaha untuk mengelola Goal dengan cukup baik, mulai klasifikasi berdasarkan tingkatan atau level, fungsi, periode waktu, strategi pencapaiannya, dan pembagian siapa yang bertanggung jawab untuk merealisasikan Goal tersebut.

Perusahaan Agile akan berusaha mengakomodir para stakeholders untuk merumuskan Goal secara bersama-sama dan melakukan beberapa kompromi dan penyesuaian. Perusahaan Agile cenderung tidak menggunakan istilah Goal Setting untuk menetapkan sebuah Goal, namun lebih memilih istilah Goal Commitment. Goal Commitment ini mencerminkan jika Goal dibuat berdasarkan sebuah kesepakatan antara pihak-pihak terkait, bisa kombinasi dari level atas ke bawah, bawah ke atas, atau samping ke samping.

Kalian mesti cukup lihai untuk menggali lebih dalam bagaimana sebuah Goal bisa ditetapkan agar kalian juga tahu apa yang mesti kalian lakukan terhadap Goal tersebut.

Perlu diingat, jangan pernah menanyakan Job Desc atau Daily Activity hingga detail di perusahaan Agile, kalau hanya sekedar ingin tahu tidak masalah, karena hal itu bisa membuat perekrut mempunyai persepsi kalau kalian menyukai aktivitas yang monoton dan statis.

Model Pembelajaran dan Manajemen Pengetahuan

Selanjutnya kalian mesti mengetahui bagaimana model pembelajaran yang diselenggarakan oleh perusahaan beserta manajemen pengetahuannya. Setiap perusahaan pasti memiliki strategi dan taktik sendiri-sendiri terkait dengan model pembelajaran dan manajemen pengetahuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan perusahaan.

Secara umum ada perusahaan yang mengadakan berbagai program atau kegiatan pembelajaran, baik yang bersifat formal maupun informal, ada juga yang dikelola secara internal maupun melibatkan pihak ekseternal, ada pula yang periode waktunya sudah ditetapkan maupun tidak. Apapun strategi yang digunakan untuk mewujudkan sistem pembelajaran di perusahaan, kalian mesti harus tahu latar belakang mengapa perusahaan bersusah payah menyelenggarakan sistem pembelajaran.

Ada beberapa pertimbangan utama mengapa perusahaan mulai sadar untuk mewujudkan manajemen pembelajaran beserta pengetahuan baik yang diadakan secara mandiri maupun bekerja sama dengan pihak eksternal.

  • Kebutuhan akan terwujudnya KECERDASAN KOLEKTIF yang terdistribusi merata di dalam sebuah Tim.
  • Kebutuhan standarisasi kemampuan di level individu maupun tim, baik terkait dengan Kompetensi, Kapabilitas, dan Kapasitas.
  • Adanya tuntutan untuk mewujudkan T-Shape Competency di mana setiap individu akan mempunyai beberapa jenis kompetensi tertentu sehingga mampu berkontribusi lebih optimal ketika diperlukan dalam sebuah jalinan kolaborasi.
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas kemampuan level individu dan Tim agar terus dapat beradaptasi terhadap perubahan zaman yang semakin cepat dan tidak mudah diprediksi.

Kalian juga boleh menanyakan keterkaitan antara program pembelajaran dengan Goal yang telah ditetapkan. Apakah materi pembelajaran yang diselenggarakan tersebut mempunyai keterkaitan dengan upaya untuk mencapai Goal? Bagaimana proses sebuah pembelajaran ditetapkan? Siapa saja yang dilibatkan dalam perumusan model pembelajaran? Apa indikator atau tolok ukur yang digunakan untuk menilai sebuah proses pembelajaran telah efektif dilakukan ataukah tidak?

Evaluasi Kinerja

Pertanyaan berikutnya yang bisa kalian ajukan adalah terkait dengan mekanisme evaluasi kinerja atau hasil kerja. Hal ini cukup penting untuk kalian ketahui ketika sedang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Metode evaluasi kinerja yang nanti bakal kalian hadapi akan mempengaruhi strategi dalam menyelesaikan pekerjaan ketika sudah diterima di perusahaan.

Kalian mesti memahami kalau pada umumnya perusahaan Agile sudah tidak lagi menggunakan penilaian performa kinerja secara individual. Mereka beralih menggunakan mekanisme penilaian kinerja di level Tim. Tentunya bagi kalian yang belum terbiasa dengan konsep ini mungkin agak bingung dan bertanya-tanya, lantas bagaimana cara melakukan mekanisme evaluasi kinerja berbasis Tim.

Perusahaan Agile saat ini telah banyak yang mulai mengadosi OKRs (Objective and Key Results) sebagai cara untuk menyusun target atau objective yang mesti dikejar oleh Tim. Cara bermain OKRs berbeda jika dibandingkan dengan KPIs (Key Performance Indicators) yang mungkin telah sering kalian ketahui bersama selama ini. OKRs lebih cocok untuk dijalankan oleh Tim Agile jika dibandingkan Tim non-Agile.

Mengapa perusahaan Agile mulai meninggalkan konsep KPIs sebagai mekanisme untuk menilai kinerja karyawan secara individu? Ada cukup banyak faktor, di antaranya, perusahaan Agile menekankan kolaborasi dan kerjasama aktif serta positif antar individu di level Tim. Setiap orang di dalam Tim akan siap saling respek, membantu, hingga berkorban mendukung anggota yang lain. Jika di perusahaan Agile diterapkan penilaian kinerja individu, maka pastinya spirit kolaborasi tidak akan pernah berjalan dengan baik. Masing-masing anggota Tim akan mengamankan dan fokus kepada pencapaian kinerjanya masing-masing, tidak lagi berkomitmen untuk mencapai Goal bersama.

Penghargaan

Penghargaan merupakan salah satu bagian dari sebuah motivasi yang mendorong mengapa seseorang ingin bergabung dan bekerja di sebuah perusahaan. Kalian boleh menanyakan hal ini kepada perekrut, tidak perlu sungkan atau takut kalau kalian dianggap transaksional. Pertanyaan yang kalian ajukan memang untuk mengetahui konsep atau model penghargaan yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota Tim atas kontribusi nyata yang telah diberikan.

Perusahaan Agile menggunakan mindset pertumbuhan atau Growth Mindset, sudah semestinya perusahaan mempunyai mekanisme untuk memberikan yang cukup bagus agar semua pihak bisa bertumbuh bersama-sama. Namun demikian, hal ini tidak berarti secara otomatis kalau perusahaan Agile mesti akan menawarkan jumlah penghasilan yang sangat tinggi. Jika perusahaan memang masih kecil dan sedang berada di fase setup atau grow-up, maka penghasilan yang diberikan kepada anggota Tim juga belum sebesar perusahaan yang sudah mempunyai kondisi keuangan yang bagus. Intinya, kalian mesti fair juga menilai kemampuan perusahaan secara finansial.

Perusahaan Agile berupaya untuk menyusun model penghargaan yang cukup holistik dengan memperhatikan empat perspektif, yaitu:

  • Berbasis Uang
  • Berbasis Manfaat
  • Berbasis Pembelajaran dan Inovasi
  • Berbasis Keseimbangan Kehidupan dan Kerja

Coba kalian dalami, untuk saat ini perusahaan kira-kira sudah merumuskan model penghargaan di perspektif mana saja. Kalian juga mesti memperhatikan, bahwa setiap perusahaan mempunyai pertimbangan dan kebijakan tertentu di dalam rangka menyelenggarakan penghargaan ini. Tidak berarti kalau perusahaan belum bisa memenuhi semua perspektif lantas disimpulkan bahwa perusahaan tidak memperhatikan kesejateraan Tim.

Jenjang Pertumbuhan

Istilah jenjang Pertumbuhan (Growth path) ini kalau sebelumnya biasa disebut dengan jenjang karir (Career path). Mengingat motivasi kalian bergabung di perusahaan Agile adalah ingin bertumbuh, maka tanamkan sebuah mindset di dalam diri kalau pertumbuhan itu jauh lebih penting daripada hanya sekedar karir, apalagi sebuah jabatan.

Mengingat di perusahaan Agile struktur organisasinya mempunyai kecenderungan menggunakan hirarki vertikal yang pendek, maka biasanya perusahaan akan menggunakan berbagai strategi kreatif untuk mengatur jenjang pertumbuhan bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan. Ada yang memilih melakukan kombinasi pendekatan pertumbuhan vertikal, pertumbuhan horizontal, peningkatan dan penguatan peran, pergeseran unit bisnis, pemberian peran khusus, pertukaran fungsi manajemen dan komite, hingga mendapatkan status sebagai co-founder dan pemegang saham. Selamat yah, yang awalnya dulu kalian melamar pekerjaan berstatus karyawan, sekarang menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan.

Apapun strategi jenjang pertumbuhan yang ditetapkan oleh berbagai perusahaan, secara umum menggunakan kebijakan yang sama, yaitu terkait dengan aspek KONTRIBUSI NYATA terhadap pertumbuhan perusahaan. Jenjang pertumbuhan yang dinikmati oleh siapapun yang bekerja di perusahaan bukan lagi ditentukan oleh berapa lama seseorang bergabung dengan perusahaan, bukan karena senioritas, bukan karena jabatan, bukan karena kedekatan atau pun nepotisme. Setiap orang berhak meniti dan melalui jenjang pertumbuhan ketika dia telah benar-benar mempunyai peran dan kontribusi bagi Tim dan perusahaan.

Kalian mesti menggali informasi terkait JENJANG PERTUMBUHAN ini jika kalian menginginkan bertumbuh bersama dengan perusahaan. Sekali lagi kalian juga mesti sadar, bahwa tidak setiap perusahaan Agile saat ini telah benar-benar siap untuk membuat Growth path Roadmap. Yang penting, untuk periode saat ini perusahaan telah mempunyai keinginan dan harapan untuk membuatkan peta jalan pertumbuhan bagi stakeholders. Bisa jadi perusahaan sedang menunggu kalian untuk mewujudkan pertumbuhan yang sebenarnya.

Kesimpulan

Selalu optimis dalam setiap kesempatan untuk mengikuti tahapan-tahapan yang mesti dilalui selama proses rekrutmen Agile. Mungkin hal ini akan terasa aneh dan sedikit membingungkan. Sebuah kondisi yang sangat wajar, karena kalian hanya belum terbiasa mengikuti rangkaian proses rekrutmen di perusahaan Agile.

Tetaplah berpikir positif kepada siapapun juga, karena alam akan mendukung setiap pemikiran positif kalian. Apabila kalian belum berjodoh dengan perusahaan yang kalian inginkan, jangan anggap hal itu adalah sebuah kegagalan. Sebagai seorang pembelajar sejati, kalian mesti melakukan introspeksi dan perbaikan diri. Teruslah bergerak dan melakukan pencarian perusahaan Agile berikutnya.

Manusia cenderung akan memilih lingkungan yang sesuai dengan keyakinan, mindset, dan perilaku yang biasa dia anut.

mbahDon

Salam.

Silakan bagikan tulisan ini kepada teman-teman kalian jika dinilai bermanfaat.

About The Author