Selamat tinggal Bisnis Autopilot, selamat datang Autonomous

https://sarastya.org |Autopilot dan Autonomous

Rekan-rekan para Business Owner tentunya sudah sering mendengar istilah BISNIS AUTOPILOT yang sering disampaikan oleh banyak coach atau mentor bisnis di berbagai kesempatan sejak dulu, bahkan hingga sekarang.

Nah, apa sih sebenarnya bisnis autopilot itu?

Bisnis autopilot itu secara sederhananya adalah cara mengelola bisnis tanpa perlu melibatkan Business Owner di operasional sehari-hari. Seperti yang kita ketahui bersama, faktanya hingga saat ini masih banyak perusahaan, khususnya UKM yang sangat tergantung kepada pemilik bisnis hingga ke dalam hal operasional harian.

Konsep bisnis autopilot memang sangat menarik dan menjanjikan bagi hampir mayoritas pemilik bisnis. Siapa sih yang tidak ingin kalau bisnis bisa berjalan dengan baik tanpa kehadiran pemilik bisnis? Tentunya pemilik bisnis menghendaki hal ini bisa terwujud.

Lantas apa tantangan autopilot di era VUCA seperti saat ini? Apakah bisnis autopilot masih dapat diandalkan di masa depan?

Mari kita simak lebih mendalam tentang tantangan mewujudkan bisnis autopilot di masa sekarang, khususnya paska pandemi Covid-19 dan bagaimana kita mesti merespon serta menentukan model pengelolaan bisnis modern.

Bisnis Autopilot lebih mengedepankan Sistemasi Bisnis.

Salah satu karakteristik yang menonjol dan melekat kuat dari model bisnis autopilot ini adalah terkait dengan begitu dominannya sistemasi bisnis yang mewarnai jalannya bisnis sehari-hari di sebuah perusahaan. Jika kita berbicara tentang bisnis autopilot, sudah bisa dipastikan akan membahas topik-topik terkait dengan sistemasi bisnis.

Pertama-tama alangkah baiknya kalau kita sedikit berkenalan dengan makna sistemasi bisnis sebelum mengulas keterkaitannya dengan bisnis autopilot.

Pengertian Sistemasi Bisnis

Sistemasi bisnis merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk mengelola bisnis agar perusahaan bisa berjalan dengan baik. Sistemasi bisnis berarti juga dimaknai sebagai proses untuk mendesain dan menyusun mekanisme pengelolaan bisnis melalui penerapan model dan ketentuan yang wajib dijalankan oleh karyawan.

Pada umumnya, perusahaan biasanya akan membuat banyak peraturan dan dokumen-dokumen yang memuat Standard Operating Procedure (SOP) yang sangat lengkap beserta panduan-panduan implementasinya secara terperinci. Dokumen panduan kerja yang berisikan Job Desc dan aktivitas harian juga akan disusun dengan detail.

Sistemasi bisnis ini nantinya akan digunakan oleh karyawan untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan sehari-hari. Jika ada karyawan baru, maka yang bersangkutan tinggal mempelajari sistemasi bisnis yang telah dibuat oleh perusahaan. Dengan demikian semua terlihat teratur dan terkelola dengan baik. Siapa pun karyawan yang bekerja di perusahaan, secara otomatis akan mengetahui apa yang mesti dikerjakan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan di sistemasi bisnis.

Penyusunan Sistemasi Bisnis

Sistemasi bisnis yang dibuat oleh perusahaan, khususnya UKM, biasanya melibatkan pihak konsultan atau eksternal. Kebanyakan pemilik bisnis tidak mempunyai kemampuan untuk menyusun sistemasi bisnis yang bersifat holistik dan detail. Selain itu, perusahaan juga belum mempunyai Tim yang memiliki kompetensi guna membangun sistemasi bisnis yang baik. Dengan demikian, peranan pihak konsultan umumnya cukup dominan dalam melahirkan sistemasi bisnis.

Bentuk dari sistemasi bisnis bisa bermacam-macam, biasanya tergantung kepada keilmuan yang dimiliki oleh konsultan yang membantu menyusun sistemasi bisnis. Ada yang cukup dengan dokumen Job Desc dan SOP saja, ada juga yang ditambahkan dengan pembuatan peraturan perusahaan. Apabila konsultan memiliki kapabilitas yang mumpuni, maka sistemasi bisnis akan dilengkapi dengan berbagai komponen yang mendukung terwujudnya Good Corporate Governance (GCG), seperti Business Policy, Business Rule, Business Process, Case Management, Work Instruction, dan penerapan Business Automation.

Kualitas penyusunan sistemasi bisnis ini akan menentukan bagaimana operasional sebuah perusahaan dijalankan. Idealnya, semakin lengkap sistemasi bisnis yang dimiliki, maka diharapkan perusahaan akan semakin tidak tergantung kepada para pemilik bisnis.

Implementasi Sistemasi Bisnis

Setelah sistemasi bisnis terwujud, maka yang menjadi perhatian utama dari perusahaan adalah pada fase implementasi atau penerapan dari sistemasi bisnis itu sendiri. Perusahaan yang menerapkan konsep bisnis autopilot ini akan menggunakan dua elemen utama, yaitu struktur organisasi bertingkat dengan hierarki panjang dan penggunaan sistemasi bisnis yang lengkap. Setelah itu, perusahaan akan menunjuk Manajer dan Supervisor yang akan mengawal jalannya sistemasi bisnis dengan ketat.

Struktur organisasi berjenjang ini digunakan untuk memastikan bahwa fungsi pengawasan terhadap orang-orang yang bekerja di perusahaan dapat berjalan dengan baik. Supervisor akan mengawasi para pekerja atau karyawan, Manajer akan mengawasi para supervisor, General Manager mengawasi para Manajer, dan Direktur akan mengawasi General Manager atau Manajer yang lain. Pemilik bisnis hanya perlu mengawasi direktur yang telah ditunjuk.

Dengan model struktur organisasi bertingkat inilah, pemilik bisnis merasa lebih nyaman dan aman, karena setiap orang akan di awasi oleh atasannya masing-masing, baik atasan langsung maupun tidak langsung. Pemilik bisnis juga berharap para atasan bisa memastikan bawahannya mampu menjalankan sistemasi bisnis yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Peranan sistemasi bisnis sangat sentral dan penting dalam bisnis Autopilot. Tanpa adanya sistemasi bisnis yang lengkap dan detail, maka Direktur hingga Supervisor akan kesulitan di dalam menjalankan tugas-tugasnya sesuai harapan pemilik bisnis. Oleh sebab itulah, mengapa perusahaan yang menerapkan bisnis autopilot berani berinvestasi mahal untuk penyusunan sistemasi bisnis ini.

Para Manajer dan Supervisor adalah pihak yang berhubungan langsung dengan implementasi sistemasi bisnis ini. Mereka menggunakan sistemasi bisnis ini sebagai pedoman untuk mengambil keputusan apapun agar perusahaan bisa berjalan sesuai dengan ketentuan. Fokus Manajer dan Supervisor adalah memastikan para pekerja atau karyawan benar-benar telah menjalankan sistemasi bisnis sesuai ketentuan. Tidak boleh ada pelanggaran atau kegiatan yang menyimpang dari aturan yang telah dibuat.

Doktrin Bisnis Autopilot

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa perusahaan yang menerapkan bisnis autopilot ini memandang PROCESS dan TOOLS atau perangkat pendukung jalannya sistemasi bisnis lebih penting daripada orang-orang yang bekerja di perusahaan. Direktur, Manajer, Supervisor, hingga karyawan atau pekerja biasa boleh sering berganti-ganti, namun dengan Sistemasi Bisnis yang lengkap dan detail, maka perusahaan akan terus tetap berjalan. Keyakinan para pemilik bisnis terhadap kekuatan sistemasi bisnis ini sangat tinggi.

Dengan menggunakan doktrin bahwa Process dan Tools lebih penting daripada People, maka biasanya perusahaan juga akan menyesuaikan model pengelolaan manusia dengan pendekatan sistem Human Resources (HR). HR memandang bahwa orang-orang yang bekerja di perusahaan adalah bagian dari Sumber Daya yang siap digunakan untuk menjalankan sistemasi bisnis.

Di dalam keyakinan bahwa sistemasi bisnis lebih penting daripada manusia, maka jika terjadi sebuah kesalahan, maka tersangka utama biasanya adalah dari sisi karyawan. Sebuah sanksi atau hukuman (punishment) akan menunggu untuk diberikan kepada karyawan yang tidak menjalankan sistemasi bisnis dengan benar.

Tantangan Bisnis Autopilot di Zaman Sekarang

Ada sebuah fenomena menarik terkait dengan bisnis autopilot ini khususnya pada saat pandemi Covid-19 dua tahun yang lalu, tepatnya awal tahun 2020. Ketika terjadi pandemi, maka banyak perubahan-perubahan yang sangat mempengaruhi dunia bisnis, baik secara makro hingga mikro. Kondisi chaos yang menyebabkan roda perekonomian bisa dikatakan lumpuh total dan ini berjalan selama lebih dari satu tahun. Dampaknya sangat nyata dan memporak-porandakan sendi-sendi bisnis hampir di semua sektor industri.

Sebelum pandemi menyerang, mayoritas pelaku bisnis dengan mudah melakukan berbagai macam prediksi dan perencanaan terkait masa depan perusahaan. Semua kondisi dan lingkungan relatif terkendali dan stabil, tidak ada hal-hal atau peristiwa yang bisa mengganggu jalannya bisnis.

Namun pada saat pandemi terjadi, maka pelaku bisnis mulai menemukan sebuah kesadaran baru, khususnya terkait dengan kondisi yang tidak mudah diprediksi. Selama hampir dua tahun belakangan ini, kita mulai sudah terbiasa dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan. Kondisi ini bukan hanya dialami oleh sektor industri maupun bisnis, namun hampir di semua sektor, termasuk dalam bidang pemerintahan.

Banyak kebijakan dan peraturan pemerintah yang selalu berubah untuk menghadapi kondisi yang tidak menentu selama dan paska pandemi agar kita bisa bertahan di lingkungan ketidakpastian.

Setelah memasuki fase New Normal akibat wabah pandemi Covid-19, maka kita kembali melihat ada secercah harapan terkait dengan masa depan. Banyak pembelajaran yang telah didapatkan selama menjalani masa pandemi. Setelah semuanya berangsur pulih, maka dunia bisnis pun juga perlahan-lahan pulih, walaupun kondisinya belum seperti sedia kala seperti sebelum pandemi.

Apakah ujian sudah berakhir?

Belum…. Saat ini, setidaknya ketika artikel ini diterbitkan, kita sedang menghadapi kondisi yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian berikutnya, yaitu imbas dari krisis perang Rusia-Ukraina yang sudah memasuki bulan kelima. Dampak negatif secara langsung memang belum begitu terasa bagi mayoritas pelaku bisnis di tanah air, namun dampak tidak langsung tentunya sudah bisa dirasakan oleh beberapa pelaku bisnis yang mengandalkan ketersediaan energi, bahan baku utama olahan makanan khususnya gandum, dan efek domino dengan adanya resesi ekonomi global.

Singkat cerita, kita dikepung oleh ketidakpastian yang pasti.

Nah, perusahaan yang mengandalkan model bisnis autopilot saat ini benar-benar merasakan dampaknya, khususnya bagi pelaku bisnis UKM. Sangat banyak pemutusan hubungan kerja dan turnover karyawan juga sangat tinggi. Fenomena seperti ini membuat banyak pemilik bisnis yang stress dan bingung. Belum lagi diperberat dengan ketidakpastian keadaan yang hadir hampir setiap saat berimbas kepada sistemasi bisnis yang telah ditetapkan perusahaan.

Banyak aturan, ketentuan, dan pedoman yang telah disusun dalam sistemasi bisnis akhirnya yang tidak sesuai atau tidak relevan lagi dengan keadaan dan kondisi terkini. Kalau perusahaan tetap berpegang teguh menggunakan sistemasi bisnis, maka hal itu malah justru merugikan perusahaan. Para Manajer dan Supervisor pun mengalami kebingungan untuk menghadapi ketidakpastian ini. Mereka selama ini sangat terbiasa bekerja atas arahan sistemasi bisnis. Manajer dan Supervisor tidak terbiasa untuk melakukan hal-hal yang bersifat inovasi dan kreasi.

Belum lagi diperparah dengan mentalitas bahwa Manajer dan Supervisor adalah atasan yang ingin dilayani oleh karyawan atau staf. Bahkan pada kondisi yang serba tidak pasti seperti ini, banyak pemimpin yang enggan dan tidak mau turun langsung ke lapangan membantu Tim yang sedang berjuang mempertahankan roda kehidupan bisnis. Manajer dan Supervisor lebih memilih pasif dan tidak Agile.

Baca juga: Agile itu apa sih?

Kesadaran Baru Pemilik Bisnis tentang Memanusiakan Manusia di perusahaan

Zaman telah berubah….

Kehadiran adik-adik Gen-Z dan semakin meningkatnya kesadaran terkait Agility telah mengubah arah permainan bagaimana mengelola bisnis yang baik di era ketidakpastian. Menjalankan bisnis saat ini sudah tidak sama seperti masa lalu. Generasi sekarang, baik itu milenial maupun Gen-Z sangat alergi dengan pendekatan yang dilakukan oleh banyak perusahaan yang menerapkan sistemasi bisnis sebagai instrumentasi utama. Apalagi jika sistemasi bisnis dijalankan secara kaku, ketat, dan cenderung membatasi inovasi dan kreativitas orang-orang yang bekerja di perusahaan.

Oleh sebab itulah, beberapa pemilik bisnis sudah mulai beranjak untuk mencari hal-hal baru untuk menghadapi banyak perubahan terkait dengan fenomena dan perilaku baru. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan para pelaku bisnis mulai mencari-cari pendekatan baru, maka faktor KESADARAN UNTUK MEMANUSIAKAN MANUSIA di lingkungan organisasi itulah yang mulai mendominasi di pemikiran mereka.

Saat ini para pemilik bisnis mempunyai wawasan baru, bahwa menjalankan bisnis bukan lagi sekedar terkait dengan motivasi karena aspek ekonomi semata, bukan lagi mengejar omzet, dan menumpuk aset, namun berbisnis adalah sebuah amanah dan mempunyai semangat kebermanfaatan bagi banyak orang.

Berbisnis merupakan kegiatan yang dipenuhi oleh spirit dan nilai-nilai kemanusian dan spiritualitas. Bisa jadi kesadaran ini muncul karena selama lebih dari satu tahun, banyak refleksi dan introspeksi diri yang dilakukan oleh pemilik bisnis.

Dari beberapa pemilik bisnis yang saya temui, mereka merasa mendapat kesempatan kedua untuk hidup setelah melihat banyak keluarga, sahabat, dan teman-temannya yang meninggal akibat virus Covid-19. Di kesempatan kedua inilah, mereka berkomitmen untuk mengisi hidup dan kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna.

Bahkan pemilik bisnis pun ada yang langsung meninggalkan model pengelolaan perusahaan ala bisnis Autopilot dan mencari suatu model baru yang lebih memanusiakan manusia.

Selamat datang Autonomous

Keadaan dan kondisi selama serta sesudah pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran yang sangat penting bagi pemilik bisnis, khususnya bagi mereka yang perusahaannya sangat terdampak. Lahirnya kesadaran ini sangat penting untuk dijadikan pondasi dalam perjalanan bisnis selanjutnya.

Konsep bisnis Autopilot memang teruji dan efektif ketika berada di lingkungan yang stabil dan statis, tidak banyak perubahan dan hambatan. Semua dalam kondisi ideal dan sesuai dengan perkiraan.

Nah, kondisi saat ini sangat tidak stabil atau dengan kata lain super dinamis. Banyak hal yang bisa berubah sangat cepat, baik yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan.

Perubahan preferensi pelanggan, pergerakan kompetitor, ketidakstabilan harga suatu komoditas barang, kedinamisan kondisi mitra bisnis, kebijakan dan peraturan pemerintah, peranan media sosial, iklim politik global maupun nasional, dan masih banyak sumber-sumber eksternal lainnya bisa memicu ketidakpastian yang terjadi seketika, tanpa permisi dan minta izin terlebih dahulu. Belum lagi hal ini ditambah dengan faktor keruwetan yang terjadi di internal perusahaan sendiri.

Bisnis autopilot yang mengandalkan sistemasi bisnis tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan di zaman sekarang.

Mengapa?

Karena autopilot memandang bahwa PROSES lah yang menjadi RAJA, sedangkan karyawan atau pekerja hanyalah sebagai PELAYAN yang selalu siap melayani orang-orang yang mengawal sistemasi bisnis.

Lantas solusi baru yang bisa digunakan untuk mengelola bisnis di era ketidakpastian seperti ini apa?

KONSEP YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA, bukan menjadikan manusia sebagai robot atau mesin yang siap menjalankan algoritma yang bernama sistemasi bisnis. Model pengelolaan bisnis masa sekarang dan selanjutnya adalah dengan memberikan ruang dan kesempatan sebesar-besarnya bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan agar bertumbuh dan berkontribusi nyata bagi kepentingan semua pihak di organisasi.

Selamat tinggal bisnis Autopilot….

(bersambung…)

Organisasi adalah kumpulan organisme hidup yang mempunyai keunikan dan keberagaman sifat serta karakteristik. Keberagaman itu bukan untuk memperlemah, namun justru untuk saling menguatkan guna mencapai tujuan yang sama.

mbahDon

Salam.

About The Author