Human Growth

https://sarastya.org | Human Growth

Human Growth (HG) merupakan transformasi dari konsep pengelolaan manusia yang sebelumnya menggunakan pendekatan HR (Human Resources) maupun HC (Human Capital) menuju ke arah yang lebih memanusiakan manusia di lingkungan organisasi.

Pendekatan HR lebih memandang bahwa siapapun yang bekerja di sebuah perusahaan dianggap sebagai bagian dari sumber daya atau resources yang siap digunakan oleh perusahaan dalam rangka menghasilkan produk. Entah itu staf ataupun level manajemen, mesti siap “digunakan” ketika diperlukan oleh perusahaan. Memang begitulah karakteristik dari sumber daya. Bukan hanya siap “digunakan” saja, namun juga dipastikan dalam keadaan terbaik tanpa ada cacat sama sekali.

Sedangkan pada pendekatan HC, karyawan dianggap sebagai aset perusahaan yang siap untuk dikapitalisasi dalam rangka untuk meningkatkan nilai aset perusahaan secara signifikan. HC akan melakukan berbagai upaya agar kemampuan karyawan dapat lebih ditingkatkan, khususnya melalui program-program pembelajaran, pelatihan, maupun pendidikan formal. Ikatan kedinasan maupun kontrak bersyarat kerap digunakan untuk mengikat karyawan agar tidak mudah keluar dari perusahaan ketika yang bersangkutan telah menyelesaikan program peningkatan kemampuan yang diselenggarakan oleh perusahaan, sebelum perusahaan mendapatkan “imbal balik” sesuai harapan.

Sedangkan Human Growth (HG) mendorong agar organisasi lebih melakukan pendekatan untuk memanusiakan manusia melalui konsep pertumbuhan Kesadaran, Kecerdasan, dan Kesejahteraan. Mengembalikan fitrah manusia sebagai manusia seutuhnya di lingkungan organisasi, di mana setiap manusia itu dipandang sebagai sebuah individu (human being; person) yang mempunyai keunikan, kehendak, harapan, kebutuhan, karakteristik, watak, perilaku, belief system, niat, motivasi, pemikiran, gagasan, tindakan, maupun kebiasaan. Individu yang mempunyai pemahaman tentang makna dan rasa akan sesuatu hal.

Human Growth sesuai dengan perkembangan zaman saat ini

Kesadaran dan kecerdasan manusia semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman, apalagi setelah era pandemi Covid-19 yang lalu di akhir tahun 2019. Secara tidak langsung, Covid-19 telah memberikan cukup banyak pelajaran dan pembelajaran, khususnya terkait dengan ketidakmampuan manusia dalam menghadapi perubahan kondisi yang ekstrim.

Saat ini setelah pandemi Covid-19 mereda, sebuah era baru dimulai kembali. Cukup banyak orang yang menjadikan pandemi kemarin sebagai momentum untuk melakukan retrospektif atau introspeksi kembali terhadap apa yang telah dilakukan sebelumnya, termasuk dalam menjalankan organisasi maupun perusahaan. Tak sedikit bisnis yang bertumbangan ketika Covid-19 melanda, tak luput pula, banyak Business Owner yang ditinggalkan oleh karyawannya yang sedang menyelamatkan diri dan mencari perahu lain yang dinilai lebih tahan terhadap goncangan ombak pandemi.

Dari berbagai pembelajaran yang telah didapatkan, maka kecenderungannya, saat ini semakin banyak Business Owner yang menyadari betapa pentingnya perusahaan dihuni oleh orang-orang yang benar-benar mau dan bersedia memikirkan kelangsungan hidup perusahaan walaupun sedang dihantam oleh berbagai ujian yang siap menggulung serta merobohkan pohon-pohon kehidupan perusahaan.

Di sinilah Human Growth (HG) mencoba hadir dan memberikan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan manusia di organisasi, khususnya dalam hal pertumbuhan secara bersama-sama di antara semua pihak yang terkait. HG mendorong agar organisasi memberikan kesempatan kepada semua stakeholders, khususnya internal untuk bertumbuh dan berkembang bersama dengan organisasi.

Baca juga: Strategi mewujudkan Tim Mandiri melalui pendekatan Human Growth (HG).

Pertumbuhan Kesadaran menjadi Pondasi Awal

Menumbuhkan kesadaran kepada setiap individu di organisasi menjadi tantangan awal yang tidak mudah ditaklukkan, apalagi kalau perusahaan sudah cukup lama didirikan dan belum mempunyai karakter yang kuat untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya. Jauh lebih mudah ketika perusahaan masih relatif baru didirikan, apalagi saat proses rekrutmen anggota Tim juga dilakukan dengan benar dan baik.

Kesadaran apa yang semestinya dimiliki oleh orang-orang yang bergabung di dalam organisasi?

Setidaknya ada tiga jenis kesadaran utama yang perlu diperhatikan agar dapat mempercepat proses pendewasaan ketika menjalani kehidupan berorganisasi maupun berbisnis, yaitu:

  • Kesadaran DIRI
  • Kesadaran INTERAKSI
  • Kesadaran ILLAHI
https://sarastya.org | Kesadaran Diri

Kesadaran Diri

Setiap individu diharapkan dapat memahami dirinya sendiri dengan cukup baik. Dia menyadari bahwa dirinya sebagai manusia akan terikat oleh tiga elemen utama yang akan selalu menyertai di setiap aspek kehidupan, yaitu HATI, AKAL, dan MATERI/FISIK. Tak akan ada orang yang benar-benar mempunyai kesamaan dalam semua aspeknya, walaupun orang kembar sekalipun. Setiap individu mempunyai identitasnya masing-masing yang bersifat unik dan spesifik. Identitas ini terbentuk selama bertahun-tahun sepanjang hidupnya melalui berbagai fase, proses, dan tempaan hidup.

Kesadaran Diri ini diperlukan agar seseorang bisa menempatkan diri dalam kondisi dan perspektif tertentu sesuai dengan lingkungan di mana dia berada. Kita tidak akan mudah memahami kesadaran situasional, jika kesadaran terhadap diri sendiri saja masih belum paripurna. Sebagai manusia yang mempunyai fitrah atau kecenderungan mendasar, maka memahami hal-hal mendasar terkait dengan watak, karakter, sifat, keyakinan, kebenaran, keinginan, harapan, kebutuhan, emosional, rasa, permasalahan, ujian, dan seterusnya sangat penting untuk dilatih. Kita tidak boleh berlindung atas nama fitrah untuk memaksakan kehendak diri kepada orang lain.

Kesadaran Diri seseorang ini mempunyai tingkatan atau level yang tidak sama, ada yang masih terjebak dalam satu atau dua elemen tertentu saja, ada juga yang mempunyai kecenderungan tidak selaras ataupun seimbang untuk mengelola ketiga elemen tersebut. Orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri biasanya telah memiliki Kesadaran Diri yang paripurna. Dia bisa menyelaraskan sekaligus menyeimbangkan di antara ketiga elemen utama manusia, yaitu Hati, Akal, dan Materi.

Human Growth (HG) memberikan kesempatan luas kepada setiap orang yang tergabung dalam organisasi untuk meningkatkan Kesadaran Diri dalam hal penyelarasan dan penyeimbangan ketiga elemen utama manusia tersebut.

https://sarastya.org | Kesadaran Interaksi

Kesadaran Iteraksi

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menjalani kehidupan di dunia ini sendirian, manusia akan sangat tergantung kepada yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk mewujudkan harapannya. Setiap orang akan membutuhkan yang lain, suka ataupun tidak. Memahami keadaan seperti ini akan memudahkan untuk menumbuhkan Kesadaran Interaksi.

Interaksi merupakan sebuah hubungan antar satu pihak dengan pihak lain yang saling mempengaruhi. Interaksi terjadi ketika ada minimal dua belah pihak yang saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi yang baik ketika masing-masing pihak dapat saling memahami makna dan tujuan mengapa terjalin sebuah keterkaitan maupun keterikatan. Diperlukan komitmen untuk saling mendukung guna mencapai tujuan yang diharapkan tanpa merugikan pihak yang lain.

Interaksi yang baik berawal dari rasa kepercayaan dari satu pihak ke pihak lain. Di antaranya saling mengenal dan dapat memahami peranannya masing-masing. Mereka berusaha untuk mengenal satu sama lain dari banyak aspek dan perspektif, termasuk mengetahui serta memahami kebutuhan dan harapan secara menyeluruh terkait dengan jalinan interaksi yang akan dibangun.

Selama melakukan interaksi, maka akan ada sebuah kondisi yang cukup dinamis di antara pihak-pihak terkait. Hal ini dipahami sebagai sesuatu yang wajar dan sesuai dengan fitrah manusia. Adanya perbedaan sudut pandang dalam memahami sebuah keberagaman akan melahirkan respon yang tidak mesti sesuai dengan harapan. Diperlukan kedewasaan dalam memaknai sebuah peristiwa yang mungkin tidak dihendaki terjadi. Manusia tak akan pernah dewasa dengan sendirinya, perlu interaksi untuk melatih kedewasaan.

Keberagaman memang bagian dari kodrat manusia dan begitulah ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Memandang orang lain tidak boleh dengan sebelah mata, apalagi merendahkan. Keterikatan dilandasi atas sebuah niat dan motivasi mulia, bukan karena intan permata. Hubungan yang terjalin mesti didasarkan atas keselarasan untuk menggapai tujuan dan harapan yang telah disepakati bersama. Tidak untuk mendominasi atau mengendalikan pihak-pihak lain.

Interaksi di organisasi cukuplah kompleks, banyak hal yang tidak kita ketahui dengan sebenar-benarnya dari teman atau sahabat kerja sendiri yang mungkin setiap hari kita temui.

https://sarastya.org | Kesadaran Illahi

Kesadaran Ilahi

Puncak dari kesadaran manusia ketika mampu memahami dengan cukup baik makna Ilahiah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam konteks keorganisasian, seperti berbisnis. Kesadaran Ilahiah ini akan mendorong organisasi untuk melahirkan sekaligus mewujudkan keberamanfaatan bagi banyak pihak, baik stakeholders secara langsung maupun pihak lainnya.

Memahami bahwa manusia ini mendapatkan amanah dari Allah untuk mengelola bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan dan ketetapan dari Allah. Manusialah yang mendapatkan tugas mulia dan sangat menantang ini, bukan malaikat maupun jin. Walaupun manusia telah dilengkapi dengan berbagai instrumen maupun komponen untuk menyelenggarakan pengelolaan bumi dan seisinya, manusia tetaplah sebagai mahkluk juga yang mempunyai segala keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan.

Memahami keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan ini akan membantu manusia untuk mengerti bahwa ada sesuatu yang jauh sangat dominan dan berkuasa atas segala hal, yaitu keberadaan Sang Pencipta. Kesadaran Ilahiah akan mendorong pertumbuhan Kesadaran Diri dan Interaksi. Manusia mahkluk yang sangat tergantung kepada yang lain, bukan hanya tergantung kepada manusia, namun juga alam, hewan, dan tumbuhan.

Manusia mesti menghormati dan menghargai alam, karena itulah yang menjadi “partner” hidup dan kehidupan. Tanpa adanya alam, sesungguhnya manusia bukan siapa-siapa? Bisa dibayangkan kalau manusia hidup di luar bumi, misalkan saja di bulan, tidak perlu jauh-jauh mesti mencari planet di luar tata surya kita.

Apa yang mau dikelola di bulan?

Hidup dan menjalani kehidupan di bumi saja sudah sangat bersyukur. Ungkapan rasa syukur bisa diwujudkan dengan pengelolaan bumi yang benar, baik, dan bijak. Memberikan kebermanfaatan kepada sesama maupun alam akan menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin seperti yang dikehendaki oleh Allah. Bukan malah justru membuat kekacauan dan huru-hara seperti yang disangkakan oleh malaikat.

Organisasi bisa diibaratkan sebagai sebuah miniatur dari kehidupan duniawi dan Human Growth (HG) membantu bagaimana terwujudnya sebuah lingkungan masyarakat yang saling membantu, mendukung, respek, dan menghormati antar sesama individu. Idealnya, organisasi dijadikan sebagai wadah untuk bertumbuhnya organisme (mahkluk hidup), bukan sebagai kumpulan mesin, robot, ataupun aset.

Pertumbuhan Kecerdasan

Kesadaran merupakan pondasi sebuah organisasi, termasuk perusahaan sekalipun. Selama ini mungkin kita telah didoktrin bahwa tujuan utama untuk berbisnis adalah untuk mengumpulkan aset. Doktrin seperti itu sah-sah saja dan boleh digunakan sesuai dengan sistem keyakinan atau belief system yang dianut.

Human Growth (HG) memandang aset hanyalah bagian kecil dari sebuah kebermanfaatan. Aset tidak untuk dimiliki, namun justru untuk diberikan. Pemahaman seperti ini tidak mudah diterima jika tidak didasarkan atas sebuah kesadaran dan kecerdasan. Oleh sebab itu, kajian awal dari HG adalah menumbuhkan kesadaran, selanjutnya diikuti dengan menumbuhkan kecerdasan orang-orang yang berada di organisasi.

https://sarastya.org | Syafira Ability Framework

Kecerdasan dan Kemampuan

Kecerdasan dan kemampuan tidak bisa dipisahkan, keduanya merupakan bagian dari sebuah rangkaian atau proses yang berkelindan untuk menghasilkan kebermanfaatan atau pun value. Kecerdasan tidak sama dengan kepandaian atau kepintaran. Human Growth (HG) mendorong untuk menumbuhkan kecerdasan masing-masing individu yang tergabung dalam sebuah organisasi agar terwujud kecerdasan kolektif.

Kecerdasan yang dimiliki oleh individu akan menjadikan seseorang untuk mampu mengerjakan, menyelesaikan, dan mempersembahkan sebuah value kepada para pemakainya. Kemampuan tanpa didasarkan atas sebuah kecerdasan berpotensi tidak dapat menghasilkan value seperti yang diharapkan atau justru malah akan mendatangkan ketidakbaikan.

Kecerdasan dapat dicapai dengan benar ketika seseorang telah melewati fase kesadaran. Itulah yang membedakan antara kecerdasan dan kepintaran. Persamaan di antara keduanya adalah sama-sama bisa menyelesaikan sebuah permasalahan, sedangkan perbedaannya, kecerdasan terbalut dengan akal budi, perilaku, norma, pemahaman kebenaran, makna dan tujuan. Kepintaran lebih berorientasi kepada kebenaran yang terbalut dengan logika dan angka, bukan terpusat kepada sebuah kesadaran.

Tidak semua orang yang pintar mampu mempersembahkan value, namun orang yang cerdas akan selalu menghasilkan value. Orang yang berorientasi kepada kepintaran akan melihat hal-hal kontrit semata, sedangkan orang cerdas dapat melihat hal-hal yang lebih abstrak.

Di zaman sekarang, tidak cukup hanya mempunyai kompetensi saja, harus lebih dari itu. Kompetensi sebenarnya lebih fokus kepada Kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, Ability-to-Do. Apalagi jika hanya memiliki satu kompetensi saja, dipastikan akan mempersulit organisasi untuk mewujudkan goal yang telah ditetapkan.

Human Growth menggunakan Syafira Ability Framework sebagai tools untuk menumbuhkan kecerdasan sekaligus kemampuan setiap individu agar berkontribusi nyata dalam mewujudkan goal yang telah ditetapkan.

Kecerdasan dimulai dari sebuah pembelajaran

Setiap orang dalam organisasi mesti didorong untuk tetap terus belajar, belajar, dan belajar. Belajar apapun yang diperlukan guna membantu terwujudnya kemampuan untuk menghasilkan value. Mereka belajar secara kolektif melalui berbagai program dan sarana pembelajaran. Setiap orang akan mengeksplorasi apapun yang diperlukan guna menambah pengetahuan dan pemahaman.

Memahami goal ataupun tujuan menjadi modal dasar untuk menjalani proses pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap tujuan, maka proses belajar akan sia-sia belaka. Selama proses perumusan dan penetapan sebuah goal, maka orang-orang yang terlibat mesti mempunyai visi atau pandangan bagaimana merealisasikan goal menjadi sebuah realita atau kenyataan.

Pembelajaran bisa dari manapun juga, tidak hanya bersumber dari kegiatan formal, seperti pendidikan formal, kelas workshop, pelatihan, seminar, webinar, naum juga dapat berasal dari proses atau kegiatan yang telah dilakukan. Bahkan sumber pembelajaran yang cukup ekstrim berasal dari sebuah kesalahan ataupun kegagalan yang telah dilakukan. Semua hal wajib dieksplorasi, dijelajahi, dan digali hingga menemukan inti dari apa yang akan kita pelajari. Diperlukan kemampuan untuk mengeksplorasi berbagai sumber pengetahuan secara cepat dan tepat.

Mempelajari keilmuan juga perlu melatih proses analisis dan sintesis dari sebuah peristiwa dan kejadian. Dari hasil analisis inilah, kita akan mengetahui hubungan sebab akibat dari elemen atau komponen yang menyusun sebuah keilmuan. Pengetahuan yang didapatkan dari serangkaian proses analisis ini akan bermanfaat untuk merumuskan hal-hal baru yang diharapkan dapat membantu terwujudnya harapan. Berbagai teknik dan metode dapat digunakan dalam rangka mengetahui keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lain, sehingga gambaran utuh sebuah keilmuan bisa didapatkan.

Puncak sebuah proses pembelajaran adalah lahirnya kesadaran tentang hakikat dari keilmuan yang sedang kita pelajari. Hal ini memuat pemahaman dan keyakinan yang mengandung kebenaran, menembus intinya inti, bukan sekedar belajar di permukaan kulit sebuah keilmuan. Setiap keilmuan yang mendatangkan kebaikan pastilah mudah untuk dipelajari, dihafalkan, dianalisis, mempunyai pola, dan tentunya mudah diimplementasikan. Diperlukan sebuah pemahaman atau understanding yang mendalam untuk mengupas filosofi sebuah keilmuan.

Kemampuan untuk mengamalkan dalam sebuah persembahan

Pemahaman sebuah keilmuan bukanlah tujuan akhir dari proses pembelajaran, namun justru itu adalah fase awal untuk mendapatkan kebermanfaatan dari apa yang sudah dipelajari. Keilmuan yang sudah dipahami wajib untuk diamalkan atau diimplementasikan agar menghasilkan kebaikan, apalagi jika memang terkait dengan terwujudnya Goal yang telah ditetapkan.

Mengamalkan keilmuan berarti melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai dengan keilmuan yang telah dipahami. Tindakan tersebut bisa berupa pekerjaan, proses, ataupun aktivitas. Setidaknya ada tiga tahapan yang mesti dilalui sebelum sebuah tindakan mendatangkan kebermanfaatan bagi penggunanya, yaitu pelaksanaan (Ability-to-Do), penyelesaian (Ability-to-Complete), dan persembahan (Ability-to-Deliver).

Dibutuhkan persyaratan-persyaratan kemampuan tertentu untuk mengerjakan, menyelesaikan, dan mengirimkan hasil pekerjaan sesuai dengan ketentuan. Ada kalanya seseorang hanya mampu untuk mengerjakan sesuatu hal, namun tidak mampu untuk menyelesaikan atau bahkan mengirimkan hasil pekerjaan kepada pengguna. Penjelasan detail dari kemampuan dalam fase Persembahan di Syafira Ability Framework akan dijelaskan dalam topik terpisah.

Human Growth (HG) berusaha mendorong orang-orang dalam organisasi mempunyai skills set yang lengkap untuk menghadirkan sekaligus mempersembahkan value kepada penggunanya. Selama rangkaian proses tersebut, mereka juga diajarkan tentang konsep pertanggungjawaban atas sebuah tindakan. Liabilitas ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemampuan untuk mengerjakan, menyelesaikan, dan mempersembahkan value.

Kemampuan untuk “melepaskan” menjadi kunci inovasi berkelanjutan

Mendapatkan, mempunyai, dan menggunakan keilmuan yang bisa dikonversikan menjadi sebuah kebermanfaatan merupakan sebuah kebaikan. Namun demikian, di zaman yang serba tidak menentu seperti saat ini, mempunyai satu kemampuan saja tidaklah cukup. Kebutuhan dan harapan dari pengguna (user/customer) bisa berubah-ubah sepanjang waktu tanpa pernah dapat diprediksi dengan tepat. Dengan demikian, maka orang-orang dalam organisasi setidaknya juga mesti dapat mengimbangi perubahan kebutuhan dan harapan pengguna.

Untuk itulah setiap individu di organisasi mesti dibekali dengan kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru agar mereka terus dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi bisnis, baik yang berasal dari eksternal maupun internal. Mengingat kemampuan daya serap dan analisis manusia terbatas dan tidak sama antara satu dengan yang lain, maka perlu dilakukan “pelepasan” kemampuan yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan masa kini dan mendatang. Fase ini tidaklah mudah untuk dilalui dengan baik. Biasanya manusia memiliki kecenderungan untuk terus mempertahankan apa yang sudah dimiliki, apalagi kalau dulu untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Namun demikian, suka atau tidak, memang kita akan menghadapi hal-hal baru, bahkan dengan konsep yang sangat berbeda dari yang sebelumnya. Jika tidak mempunyai kemampuan untuk “mengosongkan gelas”, maka kita sendiri yang akan kesulitan dalam menyerap kemampuan baru secara lebih cepat.

Memang tidak mudah memiliki kemampuan untuk “tidak memiliki”. Justru dengan kemampuan inilah kita akan memahami bahwa tidak semua kemampuan harus digunakan dalam waktu yang bersamaan. Konsep “mengosongkan gelas” ini tidak berarti kita harus benar-benar melupakan atau menghapus kemampuan yang telah kita miliki sebelumnya. Kita hanya menyimpannya sementara di tempat yang “aman”. Dengan demikian, ketika dibutuhkan, kita tinggal memanggilnya kembali dan siap untuk digunakan. Skill yang tidak terkait dengan pencapaian goal justru akan menjadi waste dan tentunya hal ini perlu dihindari.

Human Growth (HG) mengajarkan konsep untuk melepaskan sesuatu sebagai bagian dari sebuah siklus yang terus akan berulang. Jika ingin bertumbuh kemampuannya, maka perlu untuk melepaskan yang lama agar tidak membebani hal baru yang akan menemani di siklus berikutnya. Air laut mesti rela untuk melepaskan diri menuju ke atas untuk menikmati suasana baru di lapisan troposfer. Setelah beberapa saat di area troposfer, air laut tersebut berubah menjadi awan dan selanjutnya turun menuju ke permukaan bumi dengan disertai peristiwa turunnya hujan. Air hujan tersebut pada akhirnya kembali ke lautan dan melengkapi satu siklus perputaran.

Pertumbuhan Kesejahteraan

Kesejahteraan terkait dengan bagaimana seseorang memahami makna dari esensi kebahagiaan yang sebenarnya. Kesejahteraan tidak berhubungan dengan seberapa banyak angka yang telah dikumpulkan, baik itu yang terlekat pada uang, aset, surat berharga, maupun bentuk kepemilikan lainnya. Kesejahteraan berada di domain atau area rasa, bukan di pikiran ataupun material.

https://sarastya.org | Human Growth Well-Being

Kebahagiaan menjadi esensi utama dari sebuah kesejahteraan, lepas dari aspek kebutuhan dan harapan. Tingkat pemahaman setiap orang tidak sama terkait makna kebahagiaan ini. Kualitas kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh faktor tingkat kesadaran dan kecerdasaan seseorang. Oleh sebab itulah, Human Growth (HG) menempatkan kesadaran pada tahap awal dan kecerdasan pada tahapan berikutnya.

Secara umum, kesejahteraan tidaklah sama dengan kekayaan atau atribut materi lainnya. Filosofi dan makna kesejahteraan jauh di atas aspek kekayaan. Kesejahteraan akan mendatangkan kedamaian dan ketenangan dalam mengarungi kehidupan. Sekali lagi, kesejahteraan ini berhubungan erat dengan rasa bahagia. Kedamaian dan ketenangan inilah yang akan melahirkan keselamatan baik di dunia maupun akhirat.

https://sarastya.org | Human Growth Need and Expectation

Harapan

Sebagai mahkluk, maka setiap orang pastilah mempunyai harapan, walaupun mungkin ada orang yang tidak ingin mempunyai harapan. Berharap tidak mempunyai harapan itu sendiripun adalah sebuah harapan juga.

Harapan merupakan sebuah fitrah dan hal ini memberikan suatu penegasan bahwa manusia memang membutuhkan tempat untuk bergantung atau sandaran. Manusia tempatnya kelemahan dan kekurangan. Hanya Allahlah yang tidak memerlukan gantungan sedikitpun.

Selama menjalani hidup dan kehidupan, harapan setiap individu tidak ada yang benar-benar sama, bahkan dari zaman ke zaman. Namun demikian jika ditelisik lebih mendalam lagi, dari jutaan atau miliaran harapan manusia yang pernah ada, terdapat sisi menarik, yaitu bahwasanya manusia mempunyai kesamaan harapan, berharap mendapatkan tempat yang baik di kampung akhirat.

https://sarastya.org | Human Growth Expectation Cluster

Harapan mempunyai rantai yang akan mengikat satu dengan lainnya sehingga membentuk sebuah culster. Pusat harapan seluruh umat manusia pada dasarnya adalah ingin menjadi penduduk di kampung akhirat yang baik, bukan di tempat yang buruk. Idealnya, organisasi menjadi wadah bagi para stakeholders internal untuk bisa mewujudkan harapan mereka. Inilah yang menjadi tantangan bagi para founder dan business owner sejak awal untuk merumuskan niat serta motivasi ketika organisasi atau perusahaan didirikan.

Niat dan motivasi ini akan mempengaruhi bagaimana visi dan misi perusahaan akan ditetapkan. Tentunya juga akan berpengaruh dengan bagaimana organisasi serta perusahaan dikelola dan dijalankan. Menyelaraskan harapan individu dengan harapan perusahaan mesti dilakukan sejak proses rekruitmen talenta. Para kandidat mesti memahami dengan cukup baik Expectation Cluster pada dirinya, sehingga akan memudahkan kandidat untuk menilai, apakah perusahaan memang tempat yang sesuai untuk bisa mewujudkan harapan-harapan yang dimilikinya.

https://sarastya.org | Human Growth Expectation Behavior

Menumbuhkan HARAPAN yang benar, baik, dan bagus kepada setiap orang di organisasi memang cukup menantang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harapan lahir disebabkan oleh banyak faktor dan kondisi, bahkan juga dipengaruhi oleh fungsi waktu. Di sinilah sekali lagi, aspek kesadaran dan kecerdasan akan mempengaruhi bagaimana seseorang mampu merumuskan sebuah harapan yang akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Ketika harapan seseorang dipaksakan untuk direalisasikan, maka hal ini dapat berpotensi terjadinya konflik kepentingan dan ekspektasi. Terwujudnya harapan menjadi sebuah realita sepenuhnya berada di kuasa Allah, bukan lagi menjadi domain atau area manusia. Kewajiban manusia hanyalah sebatas dalam memenuhi apa yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan atau upaya yang diperlukan agar harapan dapat terwujud.

Apapun realisasi atas sebuah harapan, maka sesungguhnya itulah yang terbaik dari sisi Allah, walaupun menurut manusia realisasi atas harapan tersebut dinilai sesuatu yang tidak baik. Di sinilah diperlukan kesadaran dan kecerdasan dalam memandang sebuah realita.

Human Growth (HG) mengajarkan tentang hakikat peristiwa merupakan bagian dari sebuah proses pembelajaran akan sebuah kesadaran untuk memahami makna dan hakikat, tidak terpukau oleh sebuah bungkus yang bernama realita.

Kebutuhan

Tidak setiap orang yang mempunyai harapan mampu untuk menguraikan apa saja kebutuhan yang mesti dipenuhi. Terkadang dia berhasil merumuskan sebuah harapan dengan benar, baik, dan bagus, namun gagal untuk mendefinisikan elemen atau komponen kebutuhannya. Sebagai contoh sederhana, ketika seseorang berharap KENYANG ketika sedang kelaparan, yang dia butuhkan sebenarnya adalah MAKANAN. Namun karena gagal mendefinisikan kebutuhan, maka yang dia cari adalah UANG. Uang ini bukan kebutuhan, karena uang bukanlah makanan yang diperlukan oleh tubuh.

Kegagalan mendefinisikan kebutuhan yang sesuai dengan harapan akan dapat menyebabkan berbagai permasalahan selama melakukan upaya atau usaha untuk mencapai harapan tersebut. Kebutuhan ini menjadi sebuah syarat sebelum sesuatunya dimulai. Kebutuhan mesti dipenuhi sesuai dengan takaran yang diperlukan.

Kebutuhan juga dapat memicu lahirnya kebutuhan baru yang lain, seperti sebuah reaksi fisi nuklir. Kecerdasan dan kearifan dalam merumuskan kebutuhan ini sangat diperlukan agar tidak terjadi pemborosan yang tidak disukai Allah.

Kebutuhan bisa berupa sumber daya (resources), alokasi waktu, energi, biaya, data, informasi, metodologi, ability, dan elemen lain yang diperlukan. Kebutuhan mempunyai spesifikasi yang mesti diperhatikan sebelum dipergunakan.

Upaya

Manusia bukanlah mahkluk yang bisa dalam sekejap mewujudkan apa yang diharapkan menjadi sebuah kenyataan atau realita. Untuk mengubah harapan menjadi realita, maka diperlukan ikhtiar yang benar dan baik. Ikhtiar juga merupakan sebuah wasilah atas ghoyah (goal/tujuan/harapan) yang ingin diwujudkan.

Dalam konteks organisasi pada umumnya, upaya ini bisa berupa Tata Kelola atau Governance yang mesti disusun dan ditetapkan oleh organisasi sebagai bagian dari pedoman untuk merealisasikan harapan. Di dalam Governance yang baik, maka sudah barang tentu akan memuat seperangkat ketentuan yang dijadikan standar organisasi, seperti Policies, Rules, Processes, Procedures, hingga Work Instructions.

Untuk menjalankan Tata Kelola, maka diperlukan kemampuan atau ability orang-orang yang melakukannya sehingga diharapkan Allah akan mengabulkan harapan dan upaya yang telah diselesaikan juga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ikhtiar yang tidak tepat berpotensi menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Human Growth (HG) berupaya mendorong organisasi untuk mengajarkan kemampuan bagi orang-orang di dalamnya agar bisa melakukan upaya dengan sebaik mungkin dan menghindari pemborosan.

Makna Hasil dan Respon

Setiap orang di organisasi berharap dapat menikmati hasil atau result minimal sesuai dengan harapan. Padahal kenyataannya, hasil tidaklah selalu sama dengan harapan, bahkan kebanyakan justru di bawah harapan.

Apapun hasil yang ditakdirkan oleh Allah, maka kita mesti merepsonnya dengan bijak. Memang tidaklah mudah menerima hasil ketika di bawah nilai harapan. Organisasi mesti mengajarkan kepada orang-orang di dalamnya untuk memaknai arti hasil dan bagaimana melakukan respon yang benar dan baik.

Di sini Kesadaran Ilahi sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai peristiwa terkait dengan realita dan harapan. Sebenarnya bukan hanya terkait dengan kesadaran semata, namun faktor kecerdasan untuk mempelajari hikmah yang terkandung di setiap realita hasil juga sangat dibutuhkan.

Kesejahteraan sebenarnya bisa dinikmati setiap saat, ketika seseorang telah berhasil memaknai setiap rangkaian dari siklus Need-Expectation-Impact. Memahami setiap fase, mulai dari KESADARAN dan KECERDASAN, akan memudahkan untuk mendapatkan KESEJAHTERAAN dalam arti yang sesungguhnya.

Human Growth, pertumbuhan manusia yang sesungguhnya

Setelah mempelajari ketiga elemen inti dari HG ini, mulai dari aspek Kesadaran, Kecerdasan, dan Kesejahteraan, maka bisa dirasakan perbedaannya antara Human Growth (HG) dengan konsep pengelolaan manusia di organisasi versi sebelumnya baik menggunakan pendekatan Human Resources (HR), Human Capital (HC), maupun Human Experience (HX).

HG berupaya untuk mengintegrasikan ketiga aspek manusia (Hati, Akal, dan Materi) ke dalam sebuah pembahasan tunggal yang saling terkait. Ketiga unsur utama manusia tersebut ditumbuhkan secara bersamaan dan seimbang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Organisasi yang mengadopsi Human Growth ini akan menempatkan manusia sebagai elemen utama untuk menggerakkan roda organisasi dalam rangka mewujudkan goal yang telah ditetapkan.

Semoga kita dapat mewujudkan organisasi yang mempunyai lingkungan untuk MEMANUSIAKAN MANUSIA dan menjadikan wadah serta wasilah untuk kebermanfaatan bagi individu maupun orang banyak. Tumbuhkan akar yang menghujam ke bumi dan tumbuhkan batang serta cabang yang menjulang tinggi ke langit, niscaya Allah akan mengizinkan lahirnya buah yang bergelimang.

“Menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain dan menjadikan alam sebagai sahabat dalam perjuangan.”

mbahDon

Salam – mbahDon, Inisiator Human Growth (HG)

About The Author