Bisnis Autonomous

https://sarastya.org | Bisnis Autonomous

Mungkin rekan-rekan masih cukup asing yah dengan istilah bisnis Autonomous ini. Mahkluk jenis apa lagi nih?

Bagi rekan-rekan yang dulu pernah mempelajari dan mengimplementasikan bisnis autopilot, maka akan lebih mudah untuk memahami apa itu bisnis autonomous. Persamaan di antara keduanya adalah bagaimana membangun dan menjalankan bisnis agar tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu. Operasional bisnis jika masih sangat tergantung kepada pihak tertentu akan sangat berbahaya dan tidak sehat.

Nah, lantas apa perbedaan mendasar antara bisnis autopilot dengan autonomous ini?

Bisnis autopilot menghindari ketergantungan perusahaan dari pemilik bisnis atau business owner. Doktrin itulah yang sering disampaikan oleh rekan-rekan praktisi bisnis autopilot. Oleh sebab itu, pemilik bisnis akan membangun sebuah sistemasi bisnis yang biasanya memuat aturan dan ketentuan bagaimana caranya menjalankan bisnis sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemilik bisnis. Karyawan atau pekerja wajib menjalankan sistemasi bisnis dengan benar. Untuk memastikan sistemasi bisnis dijalankan oleh karyawan dengan benar, maka pemilik bisnis akan mengangkat Manajer dan Supervisor untuk mengawasi dan menilai kinerja karyawan atau pekerja, serta memberlakukan mekanisme reward dan punishment kepada para pekerja.

Berbeda dengan bisnis autopilot, maka pada bisnis autonomous pihak perusahaan justru mendorong Tim (biasanya tidak menggunakan istilah karyawan atau pekerja) untuk bertumbuh dengan menjadikan orang-orang yang berada dalam Tim mampu menjalankan fungsinya secara lebih mandiri tanpa perlu tergantung kepada pihak pemilik bisnis, Direktur, Manajer, hingga Supervisor. Tim benar-benar diberikan kesempatan untuk berkembang, berkreasi, dan berinovasi. Bisnis autonomous ini memandang manusia sebagai aktor utama dalam menggerakkan bisnis, bukan dijadikan obyek apalagi sumber daya maupun mesin.

Bisnis Autonomous lebih mengedepankan Manusia

Kata Autonomous ini diambilkan dari bahasa Yunani yang bermakna bahwa sesuatu hal dapat mengelola dirinya sendiri, tidak tergantung dan diatur oleh pihak lain untuk menjalankan fungsinya. Kalau dalam bidang bisnis atau organisasi, maka bisa berarti sebuah Tim secara independen dapat mengorganisir dan mengelola dirinya sendiri untuk mewujudkan apa yang telah ditetapkan. Penekanan autonomous ini ada pada kemandirian Tim dan meniadakan pengaruh atau interferensi dari pihak lain.

Peranan manusia sebagai motor penggerak Tim autonomous ini sangat penting dan individu-individu yang terlibat di dalam Tim benar-benar diberikan ruang dan kesempatan untuk bertumbuh dan saling berinteraksi guna menjalin kolaborasi tanpa perlu diinterferensi, bahkan oleh pimpinan atau atasannya langsung.

Baca juga: Selamat tinggal bisnis Autopilot

Human First

Bisnis autonomous menganut paham Human Centric, bukan Process Centric seperti halnya yang digunakan oleh bisnis Autopilot.

Konsep ini menjadikan manusia layaknya sebagai manusia, bukan menjadikan manusia sebagai robot atau mesin yang siap menjalankan algoritma yang bernama sistemasi bisnis. Model pengelolaan bisnis masa sekarang dan selanjutnya adalah dengan memberikan ruang dan kesempatan sebesar-besarnya bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan agar bertumbuh dan berkontribusi nyata bagi kepentingan semua pihak di organisasi.

Bagi sebagian besar perusahaan, menempatkan manusia berada di posisi terdepan dalam pengelolaan bisnis tidaklah mudah. Doktrin yang dianut selama ini lebih menomorsatukan Sistemasi Bisnis di hampir setiap aspek kehidupan berbisnis maupun berorganisasi.

Menjadikan manusia berada di posisi atas dan terdepan ini bermakna bahwa organisasi memang benar-benar berupaya untuk menumbuhkan banyak hal terkait orang-orang yang bekerja di perusahaan. Organisasi mesti menyelenggarakan berbagai kegiatan atau program untuk menjadikan mereka sebagai manusia yang berkualitas, mempunyai nilai kebermanfaatan, hingga memiliki sebuah kesadaran tentang apa itu perilaku dan berorganisasi.

Memang tidak mudah untuk mempunyai keyakinan seperti ini, apalagi jika pemilik bisnis mempunyai motivasi hanya terkait dengan faktor ekonomi semata ketika mendirikan bisnis. Umumnya orientasi mereka akhirnya berujung kepada bagaimana mendapatkan profit dan aset semata secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya.

Nah, menjadikan orang-orang yang bekerja di perusahaan ini agar bisa bertumbuh memang memerlukan banyak hal, seperti waktu, tenaga, pikiran, hingga biaya. Menempatkan manusia berada di posisi penting ini artinya adalah kita sedang menguatkan pertumbuhan akar sebuah pohon. Pertumbuhan akar memang tidaklah mudah untuk diamati, karena dia berada dan bertumbuh di dalam tanah. Berbeda kondisi jika kita melihat pertumbuhan batang, tangkai, daun, maupun buah, yang mudah dilihat.

Kemandirian dalam Berorganisasi dan menjalankan fungsi Manajerial

Korporasi modern akan selalu berupaya untuk menumbuhkan orang-orang yang bekerja di perusahaan ini agar mereka mampu mengorganisir dan mengelola dirinya sendiri secara mandiri. Mereka bekerja dalam sebuah Tim atau berkelompok, mereka diberi bekal dan kemampuan untuk menjalankan fungsinya secara mandiri, tak perlu diawasi dan dipelototi oleh atasan.

Konsep untuk mewujudkan model kemandirian Tim ini bisa diwujudkan melalui dua cara, yaitu dengan menerapkan fungsi Self-Organizing dan Self-Managing.

Self-Organizing memberikan pemahaman bahwa Tim mesti bisa mengorganisir dirinya sendiri secara mandiri, termasuk berbagi peran dan bagaimana mereka akan berinteraksi. Sedangkan Self-Managing bermakna bahwa Tim mempunyai kemampuan untuk mengelola dirinya dalam rangka menghasilkan value yang akan dipersembahkan kepada Stakeholder pengguna.

Dua fungsi utama di Tim mandiri inilah yang menjadi ciri khas atau karakter unik dari sebuah korporasi modern.

Baca juga: Belajar membangun Tim Mandiri melalui workshop BAS.

Self-Organizing

Self-Organizing ini bermakna bahwa Tim sebagai unit satuan terkecil dari sebuah entitas yang terdiri dari beberapa individu yang mengedepankan interaksi atau hubungan relasi antar anggotanya secara natural, tanpa diatur atau dikendalikan oleh pihak tertentu. Mereka sebagai kumpulan dari individu-individu yang mempunyai keleluasaan dalam mengorganisir dirinya sendiri, menentukan siapa berperan menjadi apa, menentukan bentuk interaksi yang sesuai dengan karakteristik tanpa keluar dari kultur organisasi, menentukan proses pembelajaran, menentukan cara penyelesaian konflik, menentukan cara penghargaan, dan menentukan bentuk pertanggungjawaban masing-masing pihak di antara mereka sendiri.

Di dalam menjalankan konsep Self-Organizing ini, setiap orang didorong untuk memahami makna dan tujuan mengapa mereka berkumpul dan berinteraksi. Makna dan tujuan ini secara konkrit dan nyata biasanya berwujud berupa GOAL. Oleh sebab itu, syarat utama sebuah Tim bisa menjalankan Self-Organizing adalah kemampuan Tim untuk merumuskan dan menetapkan goal. Tanpa adanya goal yang jelas, maka bisa dipastikan Tim tak akan mampu mengorganisir dirinya dengan baik.

Kesadaran akan goal bisa dipupuk sejak awal dengan melibatkan semua orang dalam sebuah tim untuk merumuskan apa yang ingin mereka capai. Goal ini menjadi sebuah tujuan yang wajib dicapai oleh setiap orang dalam sebuah Tim secara berkolaborasi. Ingat, satu Tim mempunyai satu goal dalam periode waktu tertentu, tidak ada goal individu ataupun goal sebagian.

Menetapkan sebuah goal tidaklah mudah. Sebuah Tim yang terdiri dari banyak kepala pasti akan belajar banyak hal untuk menetapkan goal ini. Selama proses menyusun goal, mereka akan belajar respek, terbuka, transparan, berani, fokus, dan tentunya komitmen untuk merealisasikan goal menjadi sebuah realita atau kenyataan.

Mereka tidak perlu dikendalikan atau diatur oleh pihak tertentu selama menyusun dan menetapkan goal. Mereka benar-benar mandiri dan mencoba menjalankan fungsinya secara optimal. Kalaupun toh nantinya kualitas goal yang dihasilkan oleh Tim dinilai kurang berkualitas atau sangat jauh di bawah harapan, maka perusahaan tidak perlu langsung mengambil alih apa yang telah dilakukan oleh Tim. Berikanlah mereka kesempatan untuk belajar lagi bagaimana menyusun goal yang benar dan baik. Di sinilah peranan perusahaan diharapakan, yaitu dengan membimbing dan mengajarkan kepada Tim tentang strategi dan teknik bagaimana seharusnya merumuskan sebuah goal. Jangan ada hukuman karena Tim tidak mampu atau gagal dalam menetapkan Goal.

Lantas timbul pertanyaan, kalau Tim diberikan kesempatan merumuskan goal secara mandiri, maka dasar mereka menyusun goal itu apa?

Need and Expectation dari pihak Stakeholders.

Tim yang menerapkan Self-Organizing tidak perlu mempunyai atasan, entah itu Manajer ataupun Supervisor yang akan mengawasi setiap aktivitas dan keputusan yang dibuat oleh Tim.

Di dalam merumuskan goal, Tim harus memperhatikan apa Kebutuhan dan Harapan dari pihak pemangku kepentingan atau Stakeholders yang terkait dengan Tim. Misal, Tim Komersial (integrasi fungsi Branding, Marketing, Selling) bisa jadi mempunyai Stakeholders dari fungsi bisnis lain, seperti perwakilan Tim Keuangan, Tim Persediaan Barang Jadi, Tim Riset dan Inovasi, atau dari Business Owner.

Justru Tim yang Self-Organizing tidak boleh ngawur atau asal-asalan dalam merumuskan Goal. Tim ini sangat sadar betul apa yang mesti diperhatikan dan dilakukan. Tim Self-Organizing terdiri dari individu-individu yang mempunyai komitmen tinggi dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, diselesaikan, dan dipersembahkan kepada pengguna, termasuk juga kepada para Stakeholders.

Kemampuan untuk memahami Need and Expectation dari para Stakeholders menjadi syarat mutlak bagi Tim Self-Organizing. Dengan pemahaman Need and Expectation, maka Tim selanjutnya akan memetakan dan menganalisis lebih lanjut apa yang bisa dijadikan arah dan tujuan yang mesti dicapai. Arah dan tujuan inilah yang biasa kita sebut dengan GOAL.

Untuk mewujudkan goal yang telah ditetapkan bersama-sama, maka setiap individu akan berbagi peran dan tanggung jawab sesuai dengan kompetensi, kapabilitas, dan kapasitas masing-masing. Mereka akan saling mendukung dan membantu satu sama lainnya. Mereka juga menerapkan konsep pembelajaran mandiri secara bersama-sama untuk mewujudkan Kecerdasan Kolektif.

Belajar untuk mencapai pemahaman dan kebenaran atas sebuah topik atau materi ini bermanfaat ketika dapat dijadikan sarana mempermudah tercapainya goal. Tim Self-Organizing mesti mampu mengeksplorasi banyak hal untuk menemukan apa yang sebenarnya layak untuk dipelajari. Tidak semua materi pembelajaran layak dipelajari, kecuali jika materi itu memang diperlukan oleh Tim. Mempelajari semua materi justru mencerminkan ketidakmampuan Tim dalam memahami goal yang telah ditetapkan dan tentunya hal ini malah akan menjadikan pengetahuan sebagai sesuatu yang sia-sia.

Terkadang di sebuah Tim pasti akan mengalami berbagai macam kondisi, entah itu sesuatu yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Ketika Tim menghadapi permasalahan, khususnya terkait dengan interaksi dan hubungan antar individu di antara mereka, maka mereka sendirilah yang akan menyelesaikannya secara kolektif.

Misal, ketika ada seseorang yang dinilai sebagai sumber toxic atau permasalahan, maka mereka sendiri yang mesti memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan, tidak perlu merepotkan pihak lain, khususnya di bagian Human Resources/Humah Capital/Human Growth, apalagi sampai membuat pusing Business Owner.

Kemampuan untuk saling berinteraksi dan mendukung inilah yang terus ditumbuhkembangkan di Tim yang menganut Self-Organizing. Mereka tidak perlu sampai menunggu diperintahkan untuk belajar oleh pihak lain, apalagi oleh Business Owner.

Secara ringkas, maka untuk mewujudkan Tim yang mampu mengorganisir dirinya sendiri secara mandiri, perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Menumbuhkan kesadaran berperilaku, interaksi, dan berorganisasi yang baik.
  • Mengajarkan filosofi terkait makna dan tujuan.
  • Mengerti apa itu Stakehoders.
  • Memahami pentingnya Need and Expectation dari Stakeholders.
  • Mempunyai kemampuan untuk membuat penentuan prioritas terhadap opsi.
  • Menumbuhkan keberanian dalam menyampaikan sebuah kebenaran dan kebaikan untuk kepentingan bersama.
  • Meningkatkan kepercayaan diri Tim dalam menjalankan apa yang telah diputuskan tanpa takut menghadapi permasalahan ataupun kegagalan.
  • Memberikan rasa aman dan nyaman secara psikologis kepada anggota Tim untuk bertumbuh bersama-sama.
  • Menyelenggarakan mekanisme pembelajaran yang menunjang terwujudnya kecerdasan kolektif.
  • Belajar mengurangi dan menghilangkan ketergantungan kepada pihak lain di luar Tim.

Self-Managing

Sebagai sebuah Tim yang Self-Managing, mereka ini dibekali kemampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi manajerial guna mempermudah mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum, fungsi Self-Managing ini lebih fokus kepada hal-hal yang bersifat teknis sesuai dengan misi yang diemban oleh Tim.

Fungsi manajerial secara umum dapat dibagi menjadi lima fungsi khusus, yaitu:

  • Perencanaan atau planning.
  • Eksekusi atau execution.
  • Pengawasan atau monitoring.
  • Evaluasi atau assessment.
  • Perbaikan atau Improvement.

Jika di sistem manajemen konvensional, maka fungsi manajerial ini akan dikendalikan sepenuhnya oleh seseorang yang biasa disebut sebagai Manajer. Manajer mempunyai kewenangan dan otoritas yang sangat besar dalam mengelola Tim, mulai dari merencanakan target dan strategi, menentukan siapa menjadi apa, melimpahkan tugas dan pendelegasian, melakukan pengawasan yang dibantu oleh Supervisor, mengadakan evaluasi dan penilaian kinerja staf berdasarkan reporting system yang telah dibuat, serta melakukan perbaikan dan peningkatan guna dieksekusi oleh staf.

Nah, jika di Tim yang menganut konsep Self-Managing, maka fungsi-fungsi di atas sepenuhnya dilakukan oleh Tim sendiri, tidak dilakukan oleh Manajer. Setiap orang atau individu yang berada di Tim mampu menjalankan fungsi manajerial secara mandiri. Bisa dibayangkan, jika ada enam orang dalam satu Tim, maka seolah-olah Tim tersebut mempunyai enam Manager.

Perencanaan Mandiri

Tim Self-Managing mampu melakukan perencanaan secara mandiri dan dilakukan secara kolektif. Setidaknya ada tiga jenis perencanaan, yaitu:

  • Perencanaan Goal.
  • Perencanaan Outcome.
  • Perencanaan Cara.

Individu dalam Tim Self-Managing saling belajar secara kolektif untuk merencanakan ketiga aspek tersebut. Perencanaan goal ini akan melatih setiap individu untuk memahami Makna dan Tujuan, mesti ke arah mana Tim digerakkan dalam sebuah periode waktu tertentu.

Goal ini ibaratnya adalah tempat tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Tujuan akhir yang jelas akan mempermudah kita menentukan arah, jalan, tempat istirahat, jenis kendaraan, jumlah bahan bakar, dan seterusnya. Tujuan akhir akan ditentukan secara bersama-sama dengan menggunakan mekanisme komitmen.

Setelah Goal dibuat, maka Tim akan merencanakan target spesifik apa saja yang mesti dicapai untuk merealisasikan Goal. Target atau obyektif tersebut mesti bisa dicapai dan menjadi bagian dari taktik serta teknik eksekusi. Penentuan target ini sangat tergantung kepada strategi yang akan dipilih oleh Tim.

Tim yang mampu mengelola dirinya sendiri lantas mempunyai kemandirian untuk menentukan pekerjaan atau aktivitas apa yang semestinya dilakukan tanpa terpenjara oleh hal-hal yang bersifat rutin dan monoton. Dalam penentuan rencana kerja atau aktivitas, Tim akan melihat berbagai keadaan dan juga cukup fleksibel jika menghadapi perubahan. Bahkan mereka bisa melakukan perencanaan pekerjaan setiap hari agar sesuai dengan lingkungan kondisi terkini.

Eksekusi dan Pengawasan

Eksekusi atas perencanaan yang telah dibuat oleh Tim sepenuhnya menjadi tanggung jawab bersama secara kolektif. Tim tidak terjebak kepada eksekusi secara parsial ataupun sebagian. Seluruh anggota Tim akan saling mendukung agar mereka bisa mencapai Goal yang telah ditetapkan tanpa mengenal tanggung jawab pribadi.

Tim Self-Managing mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mengerjakan, menyelesaikan, dan mengirimkan hasil pekerjaan kepada penggunanya sesuai dengan kebutuhan dan harapan yang telah berhasil ditentukan. Tim mempunyai skill sets yang diperlukan guna menghasilkan value dan tidak tergantung kepada pihak lain.

Selama melakukan eksekusi perencanaan yang telah dibuat, Tim tidak perlu diawasi atau dikendalikan oleh orang lain. Mereka bisa bekerja secara mandiri dan saling memberikan feedback maupun dukungan kepada anggota Tim yang lain. Mereka juga mempunyai inisiatif dan inovasi dalam rangka menjalankan pekerjaan atau aktivitas agar target dan tujuan bisa dicapai.

Walaupun demikian, Tim sangat memperhatikan panduan maupun Tata Kelola organisasi yang telah ditetapkan dan menjadi standar selama menjalankan aktivitas. Mereka tidak akan ngawur dan semaunya sendiri dalam melakukan sesuatu hal tanpa memperhatikan kepentingan organisasi yang lebih besar.

Evaluasi dan Perbaikan

Tim akan melakukan evaluasi sekaligus perbaikan yang dilakukan secara mandiri dengan memperhatikan masukan dan saran dari pihak-pihak tertentu, misal dari stakeholders terkait dan Tim Manajemen. Ada cukup banyak elemen yang dievaluasi selama periode waktu tertentu. Mereka melakukan penilaian kinerja dari berbagai perspektif dengan cakupan area yang cukup luas dan menyeluruh.

Setidaknya ada dua area besar yang akan dievaluasi selama fase eksekusi, yaitu terkait dengan HASIL dan PROSES eksekusinya. Memahami dengan cukup baik parameter keberhasilan serangkaian eksekusi agar Goal bisa tercapai sangatlah penting. Setiap pihak mesti mengetahui dan memahami Definition of Done dari sebuah target. Dari tolok ukur inilah, proses evaluasi jauh lebih mudah dilakukan.

Evaluasi hasil target maupun Goal langsung melibatkan pihak pengguna atau stakeholders yang mewakili. Tidak diperlukan seseorang untuk melakukan evaluasi atas kinerja Tim. Evaluasi hasil digunakan untuk memberikan umpan balik efektif agar kualitas pencapaian Goal bisa ditingkatkan. Evaluasi bukan digunakan untuk menghukum atau memberikan penghargaan kepada Tim.

Evaluasi terhadap proses eksekusi dilakukan secara mandiri oleh Tim. Mereka sendirilah yang terlibat langsung selama fase eksekusi dan mereka mengetahui hal-hal detail selama eksekusi dijalankan. Ada banyak hal yang mempengaruhi kualitas proses eksekusi, di antaranya terkait dengan individu, interaksi, proses, tools, resources, strategi, teknik, metodologi, parameter tolok ukur keberhasilan pencapaian, maupun dukungan pihak-pihak terkait.

Tim akan merumuskan langkah-langkah perbaikan maupun peningkatan yang diperlukan agar kualitas pelaksanaan manajemen mandiri di fase berikutnya jauh lebih baik dan berdampak nyata. Semangat dan nilai yang dikedepankan adalah bahwa setiap orang bertanggung jawab atas hasil dan proses selama fase perencanaan, eksekusi, pengawasan, evaluasi, hingga perbaikan. Mereka bekerja sama secara kolektif selayaknya sebuah Tim mandiri.

Baca juga: Strategi mewujudkan Tim Autonomous melalui pendekatan Human Growth (HG).

Autonomous menjadi trend masa depan

Model kerja secara autonomous ini akan menjadi pilihan bagi organisasi dalam menjalankan bisnisnya di masa depan. Banyak hal positif yang bisa diambil dengan mengadopsi sistem autonomous ini, di antaranya adalah terkait dengan kecepatan dan fleksibilitas pekerjaan. Autonomous memberikan kesempatan kepada Tim untuk menjalankan sistem manajerial yang tidak tergantung kepada sosok tertentu seperti halnya di sistem Autopilot. Bahkan Tim Autonomous tidak memerlukan seorang pemimpin untuk mengendalikan Tim.

Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan Tim agar mereka bisa mengelola dirinya sendiri tanpa perlu campur tangan orang lain. Akan ada beberapa tahapan dan persyaratan yang mesti dipenuhi agar Autonomous ini bisa dijalankan dengan baik, salah satunya adalah terkait dengan aspek menumbuhkan KESADARAN dan KECERDASAN Tim.

“Tim akan menunjukkan performa kinerja terbaik ketika diberikan kesempatan dan kepercayaan penuh untuk mengelola dirinya sendiri.”

mbahDon

Salam.

About The Author