Apa sih Agile itu?

Apa sih Agile itu? Mungkin kita sudah mulai banyak mendengar, baik dalam lingkungan pergaulan bisnis, kantor, pemerintahan, seminar, dan seterusnya tentang Agile.

Bahkan saat ini Agile sepertinya menjadi sesuatu yang wajib diketahui dan dipelajari oleh rekan-rekan dari berbagai kalangan agar mereka tidak ketinggalan informasi.

Cukup banyak referensi maupun sumber yang bisa digunakan untuk mempelajari apa sih Agile itu, baik dalam bentuk tulisan, buku, artikel, cuitan di media sosial, video di YouTube, dan lain sebagainya. Singkat cerita rekan-rekan saat ini disodori oleh beraneka ragam sumber pembelajaran yang bisa dijadikan rujukan untuk belajar.

Nah, pada kesempatan kali ini, kami mencoba memberikan kontribusi untuk melakukan edukasi terkait topik Agile bagi siapapun yang ingin mempelajarinya, khususnya bagi kalangan pebisnis di Indonesia.

Sejarah singkat lahirnya Agile

Lodge at Snowbird, pegunungan Wasatch, Utah, Amerika Serikat

Tidak ada salahnya jika kita mengetahui terlebih dahulu aspek sejarah lahirnya Agile itu sendiri sehingga kita memiliki sebuah pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif atas sesuatu hal.

Agile sendiri dilahirkan secara formal sekitar tanggal 11-13 bulan Februari 2001 oleh tujuh belas orang praktisi perangkat lunak (IT) di sebuah pegunungan Wasatch di Utah, Amerika Serikat. Mereka bertemu untuk berbicara, bermain ski, bersantai, dan mencoba menemukan kesamaan atas berbagai isu terkait dengan pengembangan perangkat lunak. Ada beberapa perwakilan dari berbagai grup terkait dengan model atau metode yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak.

Ada dari perwakilan Extreme Programming, Scrum, DSDM, Adaptive Software Development, Crystal, Feature-Driven Development, Pragmatic Programming, dan lain-lain. Mereka berkumpul dan saling bersimpati satu sama lain hingga membuat semacam kesepakatan dalam sebuah MANIFESTO atau pernyataan formal. Semua peserta yang hadir pada pertemuan itu menandatangani dokumen dan merumuskan istilah AGILE.

Mereka merumuskan hal-hal yang bersifat substantif dan fundamental terkait dengan PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK, yaitu terkait dengan HUBUNGAN atau INTERAKSI ANTAR MANUSIA lebih penting daripada sekedar mengedepankan aspek PROSES maupun penggunaan TOOLS atau alat bantu.

Mereka juga merumuskan bahwa VALUE lebih penting daripada hanya sekedar urusan dokumentasi formal. Mereka juga mendorong pentingnya hubungan KOLABORASI dengan Konsumen daripada hanya sekedar mengurusi aspek kontrak atau kesepakatan yang terkadang malah justru membatasi interaksi dengan konsumen. Dan yang lebih penting lagi adalah menempatkan kemampuan untuk MERESPON PERUBAHAN menjadi sesuatu yang utama daripada sekedar mahir dalam membuat perencanaan.

Nah, Agile Manifesto sendiri secara singkat hanya terdiri dari dua elemen utama, yaitu NILAI dan PRINSIP. Agile bukanlah sebuah METODE yang bersifat teknis. Agile lebih membicarakan tentang Mindset dan Perilaku bagi yang menjalankannya.

Nilai Agile atau Agile Value terdiri dari empat pernyataan:

  1. Individu dan interaksi lebih dari proses dan sarana perangkat lunak
  2. Perangkat lunak yang bekerja lebih dari dokumentasi yang menyeluruh
  3. Kolaborasi dengan klien lebih dari negosiasi kontrak
  4. Tanggap terhadap perubahan lebih dari mengikuti rencana

Sedangkan Prinsip Agile atau Agile Principles memuat dua belas pernyataan, yaitu:

  1. Prioritas utama kami adalah memuaskan klien dengan menghasilkan perangkat lunak yang bernilai secara dini dan rutin.
  2. Menyambut perubahan kebutuhan, walaupun terlambat dalam pengembangan perangkat lunak. Proses Agile memanfaatkan perubahan untuk keuntungan kompetitif klien.
  3. Menghasilkan perangkat lunak yang bekerja secara rutin, dari jangka waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, dengan preferensi kepada jangka waktu yang lebih pendek.
  4. Rekan bisnis dan pengembang perangkat lunak harus bekerja-sama tiap hari sepanjang proyek.
  5. Kembangkan proyek di sekitar individual yang termotivasi. Berikan mereka lingkungan dan dukungan yang mereka butuhkan, dan percayai mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
  6. Metode yang paling efisien dan efektif untuk menyampaikan informasi dari dan dalam tim pengembangan perangkat lunak adalah dengan komunikasi secara langsung.
  7. Perangkat lunak yang bekerja adalah ukuran utama kemajuan.
  8. Proses Agile menggalakkan pengembangan berkelanjutan. Sponsor-sponsor, pengembang-pengembang, dan pengguna-pengguna akan dapat mempertahankan kecepatan tetap secara berkelanjutan.
  9. Perhatian yang berkesinambungan terhadap keunggulan teknis dan rancangan yang baik meningkatkan Agility.
  10. Kesederhanaan–seni memaksimalkan jumlah pekerjaan yang belum dilakukan adalah hal yang amat penting.
  11. Arsitektur, kebutuhan, dan rancangan perangkat lunak terbaik muncul dari tim yang yang dapat mengorganisir diri sendiri.
  12. Secara berkala, tim pengembang berefleksi tentang bagaimana untuk menjadi lebih efektif, kemudian menyesuaikan dan menyelaraskan kebiasaan bekerja mereka.

Makna Agile

Nah, setelah kita mengetahui secara singkat lahirnya istilah Agile, maka selanjutnya kita akan mempelajari dan mendalami terkait makna Agile dari beberapa perspektif atau sudut pandang.

Secara umum, kebanyakan orang memahami Agile bisa dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  • Agile sebagai Belief System dan Filosofi.
  • Agile sebagai Mindset dan Perilaku.
  • Agile sebagai Metode dan Praktis.
  • Agile sebagai kata sifat.

Pemahaman orang terkait dengan Agile bisa bermacam-macam, tergantung pada bagaimana yang bersangkutan mengambil sudut pandang terhadap Agile itu sendiri. Dari pengamatan dan pengalaman selama bertahun-tahun mempelajari Agile, maka keempat kelompok di atas itulah yang bisa saya simpulkan hingga saat ini.

1. Agile sebagai Belief System dan Filosofi

Memaknai Agile sebagai sebuah sistem keyakinan dan filosofi sangat menarik untuk diamati. Sistem keyakinan dan filosofi yang bagaimana sehingga Agile ditempatkan pada posisi paling fundamental dan substantif ini.

Jika kita mempelajari Agile Manifesto pada bagian VALUE yang terdiri dari empat pernyataan dasar, maka kita akan mengerti bahwa Nilai Agile ini memang membicarakan hal-hal mendasar tentang MANUSIA, PROSES, VALUE, KONSUMEN, dan PERUBAHAN. Agile Value ini cukup unik, karena bersifat sangat universal, tidak secara khusus ditujukan untuk urusan terkait dengan Teknologi Informasi. Dari keempat Nilai Agile tersebut, maka muncullah sebuah Belief System tentang sisi KEMANUSIAAN.

Bisa jadi orang-orang yang merumuskan Agile Manifesto telah menemukan sebuah titik kesadaran bahwa bekerja dalam sebuah kondisi yang terlalu formal dan birokratis sangat mempengaruhi sebuah hasil atau value yang melekat dalam sebuah produk. Mereka ingin mengembalikan kepada sebuah FITRAH, bahwa manusia itu memerlukan INTERAKSI atau HUBUNGAN yang natural, tidak birokratis atau dipagari dengan seperangkat aturan yang memenjarakan kreativitas dan inovasi.

Meyakini bahwa MANUSIA itu sebagai sebuah organisme hidup yang mempunyai segala kekurangan dan kelebihannya akhirnya menjadi pemicu lahirnya Agile Manifesto. Hal ini didasarkan kepada sebuah fakta bahwa kondisi FRUSTASI dan STESS-lah yang memicu tujuh belas orang akhirnya berkumpul di sebuah pegunungan Wasatch.

Agile sebagai sebuah filosofi merujuk bahwa nilai dan prinsip Agile ini merefleksikan hal-hal mendasar mengenai hakikat dari sebuah pengetahuan, akal budi, prinsip, teori, maupun pemikiran tentang bagaimana sebaiknya kita menghasilkan sebuah Value yang bisa dinikmati oleh pengguna, tentunya dengan cara yang lebih manusiawi.

Semua prinsip yang tercantum dalam Agile Manifesto jelas-jelas bisa dikatakan sebagai sebuah filosofi yang akan mendasari lahirnya pengetahuan baru. Satu prinsip dalam Agile Manifesto jika diuraikan hingga ke level praktik akan bisa menghasilkan belasan atau puluhan topik yang lebih detail dan dalam. Lantas bagaimana kalau kedua belas prinsip Agile ini semuanya dibedah, kira-kira akan melahirkan berapa ratus topik baru?

Bagi mereka yang memaknai bahwa Agile sebagai sebuah Belief System dan Filosofi, maka kecenderungannya akan lebih mudah untuk melakukan berbagai eksplorasi dan tafsiran dari cukup banyak perspektif dalam rangka menjalankan Agile di tataran praktis. Selain itu, mereka mempunyai kebiasaan untuk bisa menerima berbagai macam sudut pandang atau perbedaan cara dalam memahami sesuatu hal. Pemahaman fundamental mereka terhadap sesuatu hal biasanya cukup kuat.

2. Agile sebagai Mindset dan Perilaku

Mindset dan perilaku biasanya menjadi sebuah paket yang tidak bisa dipisahkan. Mindset adalah sebuah pengaturan pikiran secara sadar yang diperlukan untuk merumuskan sesuatu hal sebelum diimplementasikan atau diterapkan. Mindset merupakan sebuah pola pikir yang mencerminkan bagaimana kualitas pemikiran seseorang terbentuk. Bagi sebagian orang, sebuah mindset bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sangat-sangat penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena biasanya, mindset ini terkait dengan hal-hal prinsip atau mendasar.

Mampu menghasilkan sebuah pemikiran yang baik, namun jika tidak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata pada akhirnya juga tidaklah bagus. Penerapan sebuah mindset yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan nyata dan dilakukan secara berulang-ulang hingga membentuk sebuah kebiasaan akan menjadi tolok ukur keberhasilan dari mindset itu sendiri.

Sebagai contoh, kalau kita mempunyai mindset bisa kaya dengan cara bekerja keras, maka biasanya perilaku-perilaku yang terbentuk pun juga akan merefleksikan bagaimana kerja keras itu mesti dilakukan. Jika kita bermalas-malasan, tentunya tidak selaras dengan mindset yang telah kita bangun.

Dengan demikian maka konsistensi dan keselarasan antara mindset dan perilaku itu biasanya sudah menjadi satu paket. Jika tidak ada kesesuaian antara mindset dan perilaku, maka bisa dipastikan ada yang tidak benar cara memaknainya.

Lantas bagaimana Agile bisa dimaknai sebagai sebuah mindset dan perilaku?

Mindset Agile bisa terbentuk dengan memperhatikan Agile Manifesto bagian Value yang berjumlah empat pernyataan dasar. Keempat pernyataan tersebut jelas-jelas merupakan sebuah pola pikir yang mendasar atau fundamental. Sebagai contoh, Agile memandang bahwa aspek INDIVIDU DAN INTERAKSINYA LEBIH MEMPUNYAI VALUE DARIPADA SEKEDAR BERFOKUS KEPADA PROSES DAN TOOLS. Tentu saja pernyataan ini didasarkan atas sebuah pemikiran bahwa INDIVIDU DAN INTERAKSINYA (istilah lainnya adalah TIM) mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam konteks People, Process, dan Tools, maka peranan people menjadi sangat penting. People sebagai subyek, bukan obyek, apalagi sebagai pelengkap. People yang baik akan bisa merumuskan Process yang baik dan akan memilih Tools yang baik pula. Satu pernyataan tersebut bisa dikatakan sebagai pengaturan pemikiran atau mindset.

Selanjutnya terkait dengan PERILAKU atau Behavior, maka bisa terlihat dalam Agile Manifesto bagian PRINCIPLE yang berjumlah dua belas pernyataan. Prinsip Agile memuat sesuatu yang bisa DIPRAKTIKAN atau dijalankan oleh orang-orang yang menggunakannya, bahkan dalam periode harian. Salah satu syarat sesuatu hal bisa dikategorikan menjadi sebuah perilaku adalah konsistensi implementasinya secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Sebagai contoh, bisa diperhatikan Prinsip Agile nomor 6 yang menyatakan bahwa metode yang paling efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi adalah dengan cara berkomunikasi langsung. Prinsip ini memberikan panduan bagaimana kita mesti membentuk sebuah perilaku atau kebiasaan yang bisa dilakukan ketika ingin menyampaikan informasi atau pesan.

Bagi penganut Agile sebagai sebuah mindset dan perilaku, maka titik perhatian mereka adalah bagaimana Agile ini bisa membantu orang untuk merumuskan cara berpikir dan berperilaku yang baik sehingga mampu menghasilkan sesuatu hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain dalam kondisi yang tidak menentu, apalagi seperti sekarang ini.

3. Agile sebagai Metode dan Praktis

Payung Agile untuk menaungi praktik Agile, bisa berupa Framework maupun Metode

Selanjutnya ada kelompok orang yang memaknai bahwa Agile terkait dengan sebuah metode, metodologi, model, kerangka kerja, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan aspek praktik. Dengan kata lain, Agile dinilai sebagai sesuatu yang bisa diterapkan dengan merujuk kepada sebuah model praktik tertentu untuk menghasilkan sebuah Value.

Agile sebagai sebuah metode dan praktis memang secara eksplisit atau terang-terangan tidak disebutkan di dalam Agile Manifesto, baik Value maupun Prinsipnya. Tidak ada satu kata pun dalam Agile Manifesto yang menyebutkan istilah yang terkait langsung dengan praktik Agile, seperti Scrum, Extreme Programming, Adaptive Software Development, Pragmatic Programming, maupun model lainnya. Walaupun demikian, orang-orang yang merumuskan Agile Manifesto ini memanglah para praktisi yang menggunakan berbagai metode untuk menghasilkan perangkat lunak. Sekali lagi perlu diingat bahwa kelahiran Agile Manifesto memang berasal dari para pengembang perangkat lunak.

Bagi penganut Agile sebagai sebuah metode, framework, atau pun aspek praktis lainnya, maka mereka memaknai bahwa Agile adalah Scrum, Agile adalah Kanban, Agile adalah Continuous Integration, Agile adalah Nexus, Agile adalah Large-scale Scrum, dan seterusnya. Pandangan ini terbentuk karena biasanya yang pertama kali mereka pelajari adalah dari aspek praktik dari Agile itu sendiri.

Mereka belajar Scrum terlebih dahulu, tanpa memahami Agile Manifesto. Mereka belajar Kanban terlebih dahulu sebelum mempelajari Agile. Mereka belajar Scalable Agile Framework (SAFe) sebelum mendalami Agile Manifesto, dan seterusnya.

Scrum, Kanban, SAFe, dan puluhan metode atau kerangka kerja tersebut bisa digunakan untuk mendukung Agile seperti yang disebutkan dalam Agile Manifesto baik Value maupun Prinsipnya. Dalam gambar ilustrasi Payung Agile di atas, bisa dilihat cukup banyak model praktik yang bisa dijalankan guna mewujudkan Agile. Praktik Agile memang didominasi oleh model kerja yang berorientasi pada dunia Teknologi Informasi.

Orang-orang yang menganggap bahwa Agile sebagai sebuah praktik, kecenderungannya mereka menganggap bahwa Agile hanyalah sebatas aspek mekanikal semata. Oleh sebab itu tak jarang Agile diasosiasikan sebagai metode atau metodologi.

4. Agile sebagai sebuah kata Sifat

Selanjutnya ada kelompok orang yang memaknai Agile sebagai sebuah kata sifat semata. Dalam pemahaman mereka ini, Agile sama dengan gesit, lincah, cekatan, atau tangkas. Agile dimaknai sebatas itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Agile direlasikan dengan sebuah kecepatan. Kalau tidak cepat berarti tidak Agile, sesederhana itu saja.

Bagi penganut Agile sebagai sesuatu yang gesit, lincah, cekatan, maupun tangkas ini biasanya mempelajari Agile hanya berdasarkan informasi terbatas dan kecenderungannya terjebak kepada sebuah JARGON semata.

Mereka hanya sebatas mendengar istilah Agile secara sepotongsepotong dan tentunya tidak bersedia meluangkan waktu, pikiran, maupun energinya untuk benar-benar mendalami tentang Agile, baik Agile Manifesto beserta praktik-praktiknya.

Nah, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya selama ini, maka kelompok inilah yang jumlahnya paling banyak. Mereka memahami Agile hanya sedangkal sebagai sebuah kata sifat. Memang cukup menyedihkan, namun itulah fakta yang banyak kita temui di lapangan.

Edukasi terkait Agile masih sangat minim dan terbatas. Hal ini menjadi sebuah tantangan agar Agile tidak dianggap berhenti sebagai sebuah kata sifat saja.

Memahami Agile sebagai sebuah kata sifat tentunya sangat MENJEBAK dan melenceng dari Agile Manifesto. Oleh sebab itu, saya sangat tidak menyarankan untuk memahami Agile sebagai kata sifat saja. Itu sangat berbahaya.

Baca Juga: Belajar Agile dan Praktiknya.

Lantas mana yang benar, baik, dan bagus?

Jika rekan-rekan ada yang bertanya, sebaiknya memaknai Agile itu yang benar, baik, dan bagus seperti apa?

Saya tidak akan menjelaskan mana yang benar, baik, dan bagus. Yang jelas, jika memaknai Agile sebagai kata sifat saja, itu sudah pasti tidak benar. Artinya ada tiga pemaknaan yang bisa diambil selain memaknai Agile sebagai kata sifat.

Saya mencoba memberikan ilustrasi di bawah ini agar rekan-rekan sendirilah yang menentukan, mana yang terbaik bagi rekan-rekan.

  1. Penganut Agile sebagai sebuah Belief System dan Filosofi, biasanya juga akan mempelajari terkait dengan aspek Mindset, Perilaku, Metode, dan Praktis.
  2. Penganut Agile sebagai sebuah Mindset dan Perilaku, biasanya akan tergerak untuk mempelajari hal-hal yang bisa digunakan untuk implementasi agar bisa membentuk kebiasaan-kebiasaan positif, entah itu Metode dan Praktis.
  3. Penganut Agile sebagai sebuah Metode dan Praktik, biasanya akan terus mengasah kemampuan mereka dalam menguasai tools yang digunakan meningkatkan kualitas praktik Agile.

Tentunya rekan-rekan secara motivasi akan mempunyai kecenderungan untuk memilih ilustrasi yang pertama dan menurut saya, itulah yang bagus. Apa yang menurut saya bagus, belum tentu bagus menurut rekan-rekan. Setiap orang mempunyai Belief System dan Mindset yang tidak sama ketika memandang sesuatu hal, dan itu merupakan sebuah kewajaran.

Selamat menentukan mazhab mana yang digunakan terkait pemaknaan Agile ini.

Manusia akan selalu mencari sebuah kebenaran hakiki selama hidupnya.

mbahDon

Salam.

About The Author